Jun 5, 2024 | event
Depok, June 5, 2024 – The Department of International Relations at Universitas Indonesia recently hosted a mini workshop aimed at guiding students through the process of pursuing graduate studies, particularly PhD programs, in the United States. The workshop was presented by Dr. Christian C. Lentz, a distinguished academic with extensive experience in American higher education both as a former graduate student and a current member of an admissions team.
Dr. Lentz’s workshop was designed to provide aspiring PhD candidates with valuable insights and practical advice, drawing from his firsthand experiences. The session began by addressing the fundamental question: Why pursue a PhD in the US? Participants explored the numerous advantages, such as high-quality education, enhanced career opportunities, the chance for in-depth study, and the ability to conduct original research. The discussion also covered potential challenges, including the long duration of study (5-7 years), the demands of English-language instruction, and the highly competitive nature of these programs.
A significant portion of the workshop focused on the initial steps necessary to embark on this journey. Dr. Lentz emphasized the importance of identifying academic interests and long-term goals, selecting the appropriate research methodology (quantitative, qualitative, or mixed-methods), and choosing the right discipline and theoretical framework. He highlighted the critical role of mentorship and provided detailed information on available resources, such as scholarships, Teaching Assistantships (TAships), and grants that support international students.
Choosing the right PhD program is a crucial step, and Dr. Lentz guided participants through the decision-making process. Students learned how to evaluate universities and departments based on their prestige, available resources, and specific program offerings. The session covered strategies for identifying potential professors who could serve on their advisory committee, as well as assessing the level of peer support and competition within each program. Dr. Lentz stressed the importance of making a strong initial contact with potential supervisors, advising students to express their interest and credentials succinctly in their first email, followed by inquiries about the professors’ availability for PhD supervision.
The workshop concluded with comprehensive guidance on the application process. Participants received tips on crafting a compelling Statement of Purpose (SOP), approaching letter writers for recommendations, and preparing a strong CV with writing samples. A detailed application timeline was provided, outlining key steps from initial outreach in August to beginning the visa process in April. The interactive sessions included practical exercises to help students identify suitable programs, draft introductory emails, and outline their SOPs.
Additionally, securing your own funding for a PhD, such as through the LPDP scholarship from the Indonesian government, can significantly enhance your chances of being accepted into US universities, as it reduces their financial burden. However, most PhD programs in the US offer financial assistance through departmental funding, although the specifics can vary from one state to another. Therefore, it is crucial to focus on understanding the application process and building connections with potential advisors to increase your chances of success in pursuing graduate studies in the US.
Apr 30, 2024 | event
Otonomi dan Pemberontakan di Perbatasan China-Myanmar:
Aspirasi Politik Kudeta dan Konflik di Myanmar dan Implikasinya bagi ASEAN.
Depok, 30 April 2024, Departemen Hubungan Internasional menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku sebagai bagian dari IR-UI Monthly Discussion edisi April membahas isu otonomi dan pemberontakan yang terjadi di perbatasan China-Myanmar akibat konflik Rohingnya. Pada perbincangan bulanan IR-UI yang berlangsung luring di Perpustakaan Miriam Budiardjo (MBRC) Kampus FISIP UI. Puluhan peserta dari berbagai latar program studi menghadiri kegiatan dengan fokus utama tertuju pada buku terbaru yang mengulas fenomena otonomi pemberontak di Myanmar pasca kudeta oleh peneliti asli Singapura-Andrew Ong. Dalam buku berjudul “Stalemate: Otonomi dan Pemberontakan di Perbatasan China-Myanmar”, penulisnya, yang merupakan seorang peneliti lulusan Harvard tersebut menelaah secara mendalam kasus Tentara Negara Bersatu Wa (USWA) yang beranggotakan 30.000 orang di perbatasan Myanmar-China. Penelitian etnografi ini mengungkapkan bagaimana otonomi yang beragam di wilayah pinggiran Myanmar telah mengubah tatanan politik pasca-kudeta dan menimbulkan pertanyaan tentang integritas negara tersebut.
Kegiatan bedah buku ini dimoderatori oleh Nida Rubini, peneliti muda di Departemen Hubungan Internasional yang memandu kegiatan bedah buku dengan terlebih dahulu mendengarkan paparan dari Andrew Ong terhadap karya tulisnya. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan tanggapan dan diskusi yang hadiri oleh dua ahli yakni Ali A. Wibisono, Ph.D. – Dosen Hubungan Internasional UI dan peneliti Habibie Research Center UI, Patrick Kurniawan, Ph.D. Dalam diskusi bedah buku ini peserta berkesempatan untuk mendengarkan rangkuman dari kasus-kasus dan cerita penting yang disajikan dalam buku tersebut. Salah satu poin utama yang diangkat adalah bagaimana otonomi pemberontak di pegunungan tidak hanya tentang pertahanan terhadap negara dataran rendah, tetapi juga merupakan hubungan relasional yang dipertahankan melalui pengelolaan politik dan aliran modal serta orang-orang ke daerah pegunungan. Diskusi ini memberikan wawasan mendalam tentang dinamika politik di Myanmar dan implikasinya terhadap masa depan politik negara tersebut. Selain juga potensi implikasi bagi keamanan dan stabilitas kawasan Asia Tenggara/ASEAN.
Buku ini bukan hanya merupakan analisis mendalam tentang kenyataan politik di Myanmar, tetapi juga menawarkan refleksi yang penting tentang berbagai visi otonomi oleh kelompok bersenjata yang berbeda di negara tersebut. Dengan menggunakan kasus konkret dari Tentara Negara Bersatu Wa, buku ini menjadi panduan yang penting untuk memahami kompleksitas politik di wilayah pinggiran Myanmar dan memberikan kontribusi yang berharga bagi studi hubungan internasional dan politik komparatif. Kegiatan beda buku ditutup dengan foto bersama dengan seluruh peserta yang diharapkan dapat menjadi media dalam mendorong kolaborasi lebih lanjut di masa dengan antara civitas akademika FISIP UI dengan peneliti luar berkaitan dengan isu HAM, konflik, dan Myanmar kedepannya. Untuk informasi lebih lanjut tentang buku ini dan diskusi bulanan IR-UI, harap hubungi panitia acara melalui kontak pers yang tertera di bawah ini.
Apr 30, 2024 | event
Depok – 30 April 2024. Serangan ratusan drone rudal Iran ke Israel pada 13 April 2024 menjadi titik baru konflik antara dua negara berpengaruh di kawasan Timur Tengah. Serangan tersebut menjadi serangan langsung pertama yang dilakukan Iran dari wilayah kedaulatannya dalam skala cukup besar terhadap Israel. Rivalitas Iran dan Israel bukanlah cerita baru di kawasan Timur Tengah. “Perang di antara perang” antara Israel dan Iran telah berlangsung sejak awal 1980an dalam bentuk perang proksi yang melibatkan kelompok bersenjata; atau operasi serangan siber, maritim, dan udara yang tidak diakui. Konflik ini memiliki dampak yang luas di wilayah Timur Tengah dan melibatkan berbagai aspek. Bentuk serangan terbuka yang bentuknya tidak mengikuti pakem konflik normal ini berpotensi menjadi awal bentuk baru perseteruan di antara kedua negara, yang tidak hanya berdampak secara signifikan di Timur Tengah, namun juga ke negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan Program Studi Arab, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia mengadakan diskusi dengan judul Eskalasi Konflik Iran-Israel: Masihkah Ada Asa Perdamaian di Timur Tengah? pada 30 April 2024 di Auditorium Mochtar Riyadi. Diskusi ini bertujuan untuk mendiskusikan akar konflik, potensi dinamika konflik Iran-Israel pasca serangan drone Iran ke Israel, implikasinya bagi keamanan dan perekonomian regional dan internasional, serta peran Indonesia dan dunia untuk mencari potensi ruang perdamaian di kawasan. Diskusi menghadirkan empat pembicara, yakni Broto Wardoyo (Dosen Hubungan Internasional, FISIP – UI), Bastian Zulyeno (Dosen Program Studi Arab, FIB – UI), Ade Solihat (Dosen Program Studi Arab, FIB – UI), dan Aderia (Editor in Chief SEA Today). Diskusi yang dihadiri 120 mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UI, dan Studi Arab, FIB, UI ini dibuka dengan pernyataan Ketua Departemen HI, Asra Virgianita, yang berharap meningkatnya diskusidiskusi lintas keilmuan di antara dua bidang ilmu ini. “Perspektif politik internasional yang kental di HI akan saling melengkapi dengan perspektif manusia dan budaya dari studi Arab,” jelas Asra.

Broto Wardoyo menyebut bahwa konflik antara Iran dan Israel ini merupakan bagian dari persaingan tiga kekuatan dominan di Timur Tengah, yaitu Israel, Iran, dan Arab Saudi. Persaingan tersebut turut dicampuri oleh keterlibatan negara-negara besar dengan motivasi yang berbeda-beda. “Amerika Serikat sebagai security guarantor, Rusia sebagai partner terbatas, dan Cina sebagai economic profit seeker; alasan utamanya adalah politik hidrokarbon dan rute perdagangan global,” jelas Broto. Berbicara mengenai perdamaian seutuhnya di kawasan, menurut Broto, paling realistis adalah berharap adanya negative peace di kawasan. “Untuk setidaknya tercapai kondisi stabil dengan perimbangan kekuatan di kawasan serta berkurangnya konflik militer dan luasan wilayah konflik,” tutup Broto.
Mengawali paparannya dengan menunjukkan video dokumentasi demonstrasi menentang serangan Israel ke Gaza di Columbia University, Amerika Serikat yang diikuti oleh mahasiswa asal Indonesia, Bastian Zuleyno menggunakan analogi film 300 (Three Hundred_baca) di mana pada saat itu, Hollywood menggambarkan serangan tiga ratus tentara Romawi ke Persia (Iran saat ini). Pada serangan 13 April lalu, tiga ratus serangan drone dilancarkan oleh Iran kepada Israel. Zuleyno menggarisbawahi bahwa konflik ini adalah konflik yang sangat panjang. “Apa yang terjadi hari ini dimulai sejak 1979. Saat itu Iran tidak mengakui Israel dan ingin menghapus Israel dari peta dunia. Slogan anti-Israel sampai saat ini terus ada dan memperburuk stabilitas kawasan,” jelas Zuleyno. Dari sudut pandang Iran, keterlibatannya dalam konflik didorong karena kebencian yang diamplifikasi oleh rezim. “Faktor siapa yang memerintah Iran penting menentukan tindakan apa yang dilakukan Iran dalam konteks konflik di Timur Tengah,” jelas Zuleyno.
Ade Solihat menyampaikan sudut pandang konflik ini dari sisi manusia, dengan melihat bagaimana konflik panjang ini berdampak pada tidak hanya warga Palestina tapi juga warga sipil Israel. Dengan kondisi konflik yang sangat panjang, Ade Solihat menyatakan
bahwa, “konflik ini sudah dianggap normal. Perang adalah normal bagi masyarakat di sana.” Ade merujuk pada beberapa film dokumenter pendek mengenai kehidupan di Gaza dan tepi Barat, yang salah satunya menggambarkan bagaimana Orang Palestina dipaksa kehilangan tempat yang paling dia sukai akibat konflik. “Dehumanisasi terjadi, bahkan ketika perang tidak ada. Tidak ada situasi normal di Jalur Gaza maupun Tepi Barat,” simpul Ade. Bahkan bagi warga Israel pun tidak ada kehidupan normal karena ketakutan akan permusuhan dan perasaan terancam menghantui setiap mereka ke luar rumah. Oleh karena itu, Ade mengajak semua pihak untuk melihat konflik dari perspektif damai untuk semua sebagai manusia.
Aderia melihat konflik Iran-Israel dari perspektif pemberitaan media. Media selalu dianggap memiliki afiliasi negara tertentu yang menjadikan netralitasnya menjadi relatif. Hal ini juga menjadi salah satu isu ketika suatu media memberitakan konflik atau perang antarnegara. “Adalah hal yang biasa bagi media untuk dianggap memihak pada salah satu negara yang terlibat konflik dan kemudian dianggap berseberangan dengan negara yang menjadi lawannya,” jelas Aderia. Persepsi berpihak terkadang hanya karena media tersebut mendapatkan akses untuk mewawancarai salah satu pihak dalam konflik. “Hal ini yang menjadikan liputan konflik harus memperhatikan pemilihan kata, safety wartawan, dan bagaimana informasi mengenai konflik bisa diakses,” tandas Aderia.—
Feb 29, 2024 | event
Depok, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Indonesia pada 29 Februari 2024 menyelenggarakan diskusi bulanan (IR-UI Monthly Discussion) dengan tema Metodologi Penelitian Lapangan untuk Kajian Migrasi yang disampaikan oleh dosen peneliti Joseph Trawicki Anderson, Ph.D. dari Gothenburg University, Swedia. Kegiatan ini berfokus pada berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada mahasiswa HI UI berkaitan dengan pelaksanaan fieldworks dalam isu migrasi.
Diskusi ini menunjukan kaitan erat studi lapangan dengan metode wawancara mendalam yang terdiri dari wawancara terstruktur, semi-terstruktur, dan tidak terstruktur.. Masing-masing memiliki kegunaan tersendiri tergantung pada jenis penelitian, seperti wawancara terstruktur yang digunakan untuk penelitian berskala besar dan berbasis survei, serta wawancara semi-terstruktur yang umumnya digunakan untuk penelitian berskala lebih kecil dan bersifat lebih fleksibel. Di sisi lain, wawancara tidak terstruktur umumnya dilakukan bila ingin menguji grounded theory.

Peneliti perlu mempersiapkan rencana wawancara dengan matang. Hal ini bisa dilakukan dengan terlebih dahulu menentukan siapa saja kelompok-kelompok yang terlibat dan informan utamanya. Setelah itu, peneliti perlu mencari tahu siapa saja yang menjadi gatekeeper dan sebisa mungkin menjaring individu yang dapat menjadi penyambung ke gatekeeper. Selain itu, penting juga untuk mengenali informan sembari mempersiapkan daftar topik (bila melakukan wawancara semi-terstruktur) untuk memastikan bahwa kegiatan wawancara dapat mencakup seluruh topik yang ingin dibahas. Untuk menghargai informan, peneliti dapat sesekali menulis catatan supaya informan merasa didengarkan, terutama di isu migrasi yang banyak berkaitan dengan kelompok rentan dan marginal.
Dalam hal menjaga dinamika wawancara, Anderson menyarankan agar peneliti memperhatikan sifat dari informan. Sebagai contoh, bila informan terlihat skeptis terhadap peneliti, maka perlu menunjukkan pengetahuan yang dimiliki mengenai topik yang dibahas. Terkadang, ada kalanya peneliti perlu berpura-pura tidak tahu mengenai topik yang diangkat informan. Hal ini dapat membantu agar informan dapat membagi pengetahuannya karena merasa memiliki keahlian dalam bidangnya.
Di samping itu semua, kegiatan ini juga menekankan pentingnya memperhatikan etika dalam wawancara. Sebagai langkah pertama, peneliti perlu menjelaskan dengan jelas sejak awal kepada informan mengenai tujuan penelitian dan bagaimana data yang diperoleh akan digunakan. Selain itu, penting juga untuk terlebih dahulu meminta izin kepada informan untuk merekam sesi wawancara, karena informan kerap terikat oleh aturan institusinya. Oleh sebab itu, peneliti perlu menyesuaikan diri untuk mengikuti peraturan yang ada di tempat atau institusi yang terlibat dalam wawancara. Terakhir, apabila selama wawancara berlangsung muncul kecanggungan atau ketidaknyamanan dengan atau dari informan, alangkah baiknya jika sesi wawancara diberhentikan supaya tidak memperkeruh suasana.
Feb 4, 2024 | event
Depok (3/2) – Bersamaan dengan Dies Natalis FISIP UI (1 Februari 1968 – 1 Februari 2024), terjadi peristiwa bersejarah yakni penandatanganan Student Exchange Agreement antara FISIP UI dengan Graduate School of International Studies (GSIS) Yonsei University, Republik Korea. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 2 Februari 2024 di Ruang Nurani, Gedung A (Dekanat) FISIP UI, yang dihadiri oleh pimpinan fakultas dan perwakilan departemen/program studi di lingkungan FISIP UI, antara lain: Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto (Dekan), Nurul Isnaeni, Ph.D. (Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan), Asra Virgianita, Ph.D., dan A. E. Yeremia Lalisang, Ph.D., (Ketua dan Sekretaris Departemen Hubungan Internasional), Broto Wardoyo, Ph.D., (Ketua Prodi Magister Hubungan Internasional), Dr. Sari Viciawati Machdum (Sekretaris Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial), Meidi Kosandi, Ph.D. (Ketua Prodi Pascasarjana Ilmu Politik), dan Geger Riyanto, Ph.D. (Pengajar di Departemen Antropologi). Adapun dari pihak GSIS Yonsei University diwakili oleh Tae Yong Jung, Ph.D. (Associate Dean of Graduate School of International Studies) dan Dong Wook Ahn (Registrar of Graduate School of International Studies). Inisiasi awal kerja sama ini dilakukan oleh Departemen Hubungan Internasional dalam kunjungan ke GSIS Yonsei University pada tanggal 16 November 2023
Yonsei University merupakan salah satu kampus terbaik di Republik Korea yang menduduki peringkat 1 Most Sustainable University in Korea dan peringkat ke-14 dunia dalam THE Impact Ranking 2023, peringkat ke-8 dalam QS Asia University Ranking 2024, serta peringkat ke-76 dalam QS World University Ranking 2024. Penandatangan kerja sama ini merupakan suatu pencapaian penting bagi kedua institusi terutama dalam memperluas jangkauan program kolaborasi internasional yang sekaligus memperkuat jalinan kerja sama khususnya di bidang pendidikan antara Republik Indonesia dan Republik Korea.

Maka tidak berlebihan apabila peristiwa bersejarah ini menjadi “Kado Istimewa” dalam gelaran pesta peringatan Dies Natalis FISIP UI Ke-56. Melalui penandatanganan kerja sama ini dan bertambahnya usia FISIP UI, diharapkan semakin terbuka peluang untuk menjalankan berbagai program internasionalisasi dengan berbagai mitra internasional. Program tersebut seyogyanya dilandasi pada prinsip inklusivitas, berkeadilan dan berkelanjutan dalam upaya menghasilkan sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi dan ilmu pengetahuan yang inovatif untuk menjawab tantangan masa depan bangsa Indonesia dan dunia. ***
Jan 31, 2024 | event
Depok – 31 Januari 2024. Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia (HI UI), bersama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kapuas Sintang (FISIP UNKA), didukung oleh Pulitzer Center, menggelar seminar hasil kegiatan imersi dengan judul Menyuarakan Isu Deforestasi berdasarkan Perspektif Masyarakat Adat. Seminar ini bertujuan untuk membagikan perspektif masyarakat adat mengenai isu deforestasi kepada kalangan akademisi urban. Program Immersion to Action fokus kepada deforestasi akibat ekspansi perkebunan industri kelapa sawit di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Program Imersi dilaksanakan di Komunitas Rumah Betang, Desa Ensaid Panjang, Kabupaten Sintang pada tanggal 1-5 Desember 2023.

Pada pembukaan seminar, Asra Virgianita, Ketua Departemen Hubungan Internasional, menyoroti pentingnya program ini dalam membuka wawasan mengenai isu deforestasi. Asra menambahkan bahwa, “Program ini penting bukan hanya dalam konteks elit akademis, tetapi juga dalam dinamika hubungan internasional yang memperhatikan konteks lokal”.
Moderator seminar, Ardhitya Eduard Yeremia, ketua program Immersion to Action, menekankan pentingnya setiap kelompok dalam merefleksikan isu deforestasi yang dihadapi oleh Komunitas Rumah Betang melalui pendekatan tematik masing-masing. “Seminar ini tidak hanya untuk diseminasi nilai lokal mengenai deforestasi, tetapi juga sebagai jembatan bagi akademisi urban untuk melihat isu tersebut dari perspektif masyarakat adat,” tegas Yeremia.

Empat kelompok yang telah melaksanakan program imersi memaparkan hasil temuan masing-masing yang menunjukkan kompleksitas dan dampak yang luas dari deforestasi terhadap Komunitas Rumah Betang. Beberapa temuan aspek penting dalam melihat isu deforestasi, antara lain: kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya; dampak bencana dan kerawanan sumber pangan; tekanan terhadap sistem hukum adat dan pengelolaan lahan; serta dampak ekonomi dan sosial terhadap perempuan dalam konteks deforestasi. Temuan dan diskusi dalam seminar menunjukkan pentingnya memperhatikan perspektif masyarakat adat dalam mengatasi isu lingkungan seperti deforestasi.