Departemen Hubungan Internasional FISIP UI Kirim Delegasi dalam Program Kunjungan Delegasi ke Taiwan 2025

Departemen Hubungan Internasional FISIP UI Kirim Delegasi dalam Program Kunjungan Delegasi ke Taiwan 2025

Depok, Oktober 2025

Asra Virgianita, Ph.D., Associate Professor dan Wakil Direktur Center for International Relations Studies (CIReS), LPPSP FISIP UI, mewakili Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia sebagai delegasi resmi dalam Program Kunjungan Delegasi ke Taiwan 2025. Program ini merupakan agenda tahunan yang disponsori oleh Taipei Economic and Trade Office (TETO) Jakarta, dan dikoordinasi oleh The Habibie Center, dengan melibatkan berbagai institusi di Indonesia, termasuk perwakilan universitas, lembaga riset, dan think tank.

Program ini  mengusung tema “Strengthening Taiwan–ASEAN Cooperation Amid Geopolitical and Economic Dynamics in the Indo-Pacific”, menjadi ruang dialog strategis bagi para pemangku kepentingan yang berperan penting dalam isu hubungan internasional, pembangunan regional, serta penguatan kerja sama antara berbagai institusi di Taiwan dan Indonesia melalui pendekatan people-to-people connectivity.

Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 19–25 Oktober 2025 ini diisi dengan serangkaian pertemuan dan diskusi bersama berbagai institusi di Taiwan. Tujuannya adalah memperkuat sinergi antara berbagai institusi di Taiwan dan negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia, melalui pertukaran gagasan, eksplorasi peluang kerja sama, serta pemahaman bersama terhadap tantangan kawasan.

Partisipasi Departemen Hubungan Internasional FISIP UI mencerminkan komitmen institusi dalam mendorong keterlibatan akademisi Indonesia dalam forum-forum strategis kawasan. Selain itu, keikutsertaan ini juga merupakan bentuk konkret dari upaya memperkuat program internasionalisasi, membangun jejaring kerja sama, serta memperluas kontribusi akademik dalam diplomasi regional yang inklusif dan berkelanjutan.***

Four Decades of Global South Voices: Refleksi 40 Tahun Departemen Hubungan Internasional FISIP UI

Four Decades of Global South Voices: Refleksi 40 Tahun Departemen Hubungan Internasional FISIP UI

Depok, 20 Oktober 2025 — Dalam rangka memperingati empat dekade perjalanan akademik Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia (HI FISIP UI), diselenggarakan lokakarya internasional bertajuk “Global South Voices: Four Decades of Excellence and Contemporary Approaches in International Relations Education.”

Kegiatan ini bertujuan untuk merefleksikan perkembangan keilmuan Hubungan Internasional (HI) di Indonesia serta meninjau kembali relevansi pendekatan Global South dalam pendidikan dan penelitian HI kontemporer. Melalui forum akademik ini, HI FISIP UI menegaskan posisinya sebagai institusi yang aktif mendorong dekolonisasi pengetahuan dan pedagogi dalam studi HI.

Workshop ini menghadirkan akademisi dari berbagai negara, antara lain Oscar A. Gomez, Ph.D. (Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang), Shi Yuning, Ph.D. (Xiamen University, Tiongkok), Dr. Manoj Kumar (O.P. Jindal University, India), dan Khoo Ying Hooi, Ph.D. (Universiti Malaya, Malaysia). Para pembicara mendiskusikan berbagai pendekatan teoritis dan metodologis yang menekankan pentingnya pengalaman dan perspektif Selatan Global sebagai sumber epistemik yang sahih.

Dalam paparannya, Oscar A. Gomez, Ph.D. menekankan perlunya reposisi epistemologis dalam pendidikan HI dengan menyatakan bahwa, “Global South memiliki pengalaman historis dan pengetahuan lokal yang harus menjadi bagian dari arus utama kajian internasional.”

Sementara itu, Prof. Evi Fitriani, Profesor Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI, menegaskan pentingnya nilai kemanusiaan dalam pengajaran HI. “Empat puluh tahun perjalanan HI UI membuktikan bahwa pendidikan HI tidak sekadar menyampaikan teori, tetapi juga menanamkan tanggung jawab etis terhadap keadilan global,” ujarnya.

Diskusi panel meliputi empat bidang utama: teori Hubungan Internasional dan dekolonisasi pengetahuan, ekonomi politik internasional dari perspektif Global South, keamanan internasional non-tradisional, serta transnasionalisme dan demokrasi dalam konteks regional Asia Tenggara.

Dari sesi International Political Economy, Shi Yuning menyoroti kebutuhan untuk mengembangkan kerangka analisis ekonomi politik yang lebih mandiri di Asia Tenggara, sementara Manoj Kumar menekankan pentingnya memasukkan isu-isu keamanan non-tradisional seperti perubahan iklim dan keamanan digital dalam kurikulum HI.

Sebagai penutup, Shofwan Al Banna Choiruzzad, Ph.D. menyampaikan bahwa momentum empat dekade ini merupakan kesempatan untuk memperkuat peran HI FISIP UI dalam mengartikulasikan gagasan-gagasan akademik dari Global South ke ranah global. Ia menegaskan bahwa, “Refleksi 40 tahun ini merupakan tonggak penting untuk menegaskan peran Indonesia bukan hanya sebagai penerima pengetahuan, tetapi sebagai penghasil pengetahuan global yang berakar pada pengalaman Selatan.”

Peringatan empat dekade ini memperlihatkan kesinambungan antara tradisi akademik yang telah dibangun sejak 1985 dan komitmen Departemen HI UI untuk terus berkontribusi pada pengembangan studi HI yang lebih inklusif dan kontekstual. Melalui kolaborasi lintas kawasan Selatan-Selatan, HI FISIP UI menegaskan kembali visinya sebagai pusat keunggulan akademik yang adaptif terhadap dinamika global.

 

HI UI Tegaskan Solidaritas Global untuk Palestina melalui Seminar Publik dan Peluncuran Klaster Riset Solidaritas Selatan, Pembangunan dan Transformasi Tata kelola Dunia Berkeadilan

HI UI Tegaskan Solidaritas Global untuk Palestina melalui Seminar Publik dan Peluncuran Klaster Riset Solidaritas Selatan, Pembangunan dan Transformasi Tata kelola Dunia Berkeadilan

Diskusi Publik  dan Peluncuran Riset Cluster
Palestine: Updates from the Ground and Call for Global Solidarity”
Sabtu, 11 Oktober  2025 | Luring Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI

Depok, 11 Oktober 2025 – Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) resmi meluncurkan klaster riset baru yaitu Solidaritas Selatan, Pembangunan, dan Transformasi Tata Kelola Dunia Berkeadilan yang diketuai oleh Asra Virgianita, Ph.D.  (Associate Professor, Departemen HI UI). Klaster ini dibentuk sebagai bagian dari komitmen akademik FISIP UI untuk memperkuat kajian kritis terhadap dinamika solidaritas global, khususnya dari perspektif negara-negara Global South, dalam menghadapi ketimpangan struktural dalam tata kelola dunia.

Peluncuran ini ditandai dengan penyelenggaraan seminar publik yang diinisiasi klaster tersebut bertajuk “Palestine: Updates from the Ground and Call from Global Solidarity”.  Tema ini dipilih sebagai salah satu bentuk dorongan memperkuat solidaritas  atas isu kemanusiaan terbesar yang secara nyata terjadi. Genosida, pendudukan, dan sistem apartheid yang terus berlangsung telah merampas hak hidup, kebebasan, dan martabat jutaan rakyat Palestina. Di tengah kebuntuan diplomasi negara, solidaritas global dari masyarakat sipil seperti Global Sumud Flotilla dan BDS (Boycott, Divestment and  Sanctions) menjadi kekuatan penting dalam memperjuangkan keadilan. Palestina adalah cermin kegagalan sistem internasional, sekaligus panggilan moral bagi dunia untuk bertindak.

Seminar ini menghadirkan lima pembicara utama: Saleh Hijazi (Palestinian Activist, BDS National Committee Palestine), Shabnam Palesa Mohamed (International Legal Coalition for Palestine), Apurva G (Asia-Pacific Coordinator, BDS national Committee), Aisyah Nahwa Fahira (Secretary General, UI Students for Justice in Palestine), dan Shofwan Al-Banna Choiruzzad, Ph.D. (Associate Professor, Departemen HI UI), dan dipandu  oleh  A.E. Yeremia Lalisang, Ph.D. (Ketua Program Sarjana HI FISIP UI).  Seminar ini bertujuan untuk mendiskusikan situasi Palestina dari perspektif pelaku gerakan akar rumput yang secara serius dan gigih memperjuangkan isu Palestina di berbagai level, baik itu lokal, nasional, regional, maupun internasional serta upaya memperkuat solidaritas global, khususnya di antara negara-negara Global South. Acara dihadiri oleh mahasiswa, peneliti, jurnalis, serta perwakilan organisasi masyarakat sipil.

Dalam sambutannya, Broto Wardoyo, Ph.D., selaku Ketua Departemen Hubungan Internasional FISIP UI, menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari komitmen akademik Departemen HI dalam menyoroti isu Palestina sebagai persoalan kemanusiaan global. “Diskusi dan riset semacam ini adalah bagian dari tanggung jawab moral akademisi untuk terus membangun empati lintas bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, Nurul Isnaeni, Ph.D., Wakil Dekan I FISIP UI, menggarisbawahi relevansi kerja sama antarnegara Global South dalam memperjuangkan keadilan global. Menurutnya, “Isu Palestina telah melampaui dimensi politik, dan kini menyentuh inti kemanusiaan. Solidaritas transnasional harus diwujudkan dalam riset, advokasi, dan kolaborasi akademik.”

Sebagai Ketua Klaster Riset, Asra Virgianita, Ph.D., menegaskan dalam paparannya bahwa pembentukan klaster ini bertujuan memperkuat narasi Global South dan menghadirkan perspektif lokal dalam studi hubungan internasional. “Kami ingin menegaskan bahwa suara Global South adalah bagian penting dalam menyeimbangkan wacana global yang selama ini didominasi oleh Global North,” tuturnya.  Lebih dari sekadar ruang akademik, klaster ini diharapkan menjadi wadah strategis lintas batas untuk menghasilkan pemikiran kritis dan solutif berbasis perspektif Global South atas berbagai bentuk ketidakadilan. Klaster ini juga ditujukan untuk memperkuat posisi Universitas Indonesia sebagai pusat riset yang unggul dan berdampak, sekaligus menjadi institusi terdepan dalam membangun jejaring akademik, advokasi, dan solidaritas antarnegara Global South.


Solidaritas Global dan Suara Akar Rumput

Saleh Hijazi melalui paparannya menegaskan bahwa genosida dan sistem apartheid terhadap rakyat Palestina masih berlangsung. Ia menyerukan peran people power dan kebijakan luar negeri yang lebih tegas dari Indonesia. “Gencatan senjata bukan akhir, melainkan awal dari perjuangan menghentikan pembantaian,” tegasnya.

Dari perspektif hukum internasional, Shabnam Palesi Mohamed menyoroti kegagalan sistem hukum global dalam melindungi rakyat Palestina. Ia memperkenalkan inisiatif Truth and Reconciliation Commission for Palestine dan menekankan pentingnya art activism sebagai perlawanan kultural. “Perjuangan hukum harus disertai perjuangan naratif dan budaya,” ujarnya.

Apurva G menambahkan bahwa negara-negara Global South memiliki tanggung jawab moral untuk memperkuat solidaritas terhadap Palestina. Ia menilai bahwa gerakan  boikot, divestasi dan sanksi menjadi alat efektif untuk menekan rezim Israel.

Dari kalangan mahasiswa, Aisyah Nahwa Fakhira menyerukan semangat “Let’s Globalize Intifada,” sebagai bentuk kebangkitan solidaritas lintas generasi. Ia menegaskan bahwa gerakan mahasiswa, seperti UI Students for Justice in Palestine (UISJP), berperan penting dalam menghidupkan kesadaran publik dan menolak normalisasi dengan entitas pro-Zionis.

Menutup sesi pembicara, Shofwan Al-Banna Choiruzzad, Ph.D. menekankan bahwa perjuangan Palestina tidak boleh berhenti pada wacana diplomatik semata. “Indonesia harus konsisten dengan mandat konstitusinya untuk menentang segala bentuk penjajahan,” ujarnya, sembari menegaskan pentingnya solidaritas global dan diplomasi publik.

Refleksi dan Penutup

Dalam sesi tanya jawab, para pembicara menyoroti pentingnya bottom-up movement dalam mendorong perubahan kebijakan luar negeri Indonesia agar lebih tegas mendukung Palestina. Mereka menegaskan perlunya dekolonisasi wacana akademik yang masih didominasi oleh pandangan Barat, serta pentingnya menghubungkan gerakan rakyat dengan kebijakan publik.

Menutup acara, Shabnam Palesi Mohamed menyampaikan pesan pembebasan yang kuat dikutip dari pemikiran Ayundhati Roy (aktivis India): “Perlawanan tidak hanya dengan senjata, tapi juga melalui budaya, seni, dan narasi. Dunia lain bukan hanya mungkin — kita sedang menuju ke sana.”

Melalui seminar publik dan kehadiran klaster riset ini, diharapkan tercipta ruang strategis untuk pengembangan pengetahuan berbasis perspektif Global South, advokasi, kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara, dalam memperkuat solidaritas dan memperjuangkan keadilan global.

Penulis:  Tim Klaster Riset Solidaritas Selatan, Pembangunan dan Transformasi Tata kelola Dunia Berkeadilan

Accessibility