Global South dalam Pencarian Arti dan Peran: Menuju Solidaritas Yang Bermakna
Depok, 5 Mei 2026, Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia (FISIP UI) sukses menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “Leadership Quest of the Global South: Representation, Development, and the Changing World Order” pada Selasa, 5 Mei 2026 di Auditorium Komunikasi FISIP UI. Seminar ini menghadirkan akademisi terkemuka dari berbagai negara untuk membahas dinamika kepemimpinan Global South di tengah perubahan tatanan dunia yang semakin kompleks dan multipolar. Kegiatan ini dimoderatori oleh Agung Nurwijoyo dan menghadirkan empat pembicara utama, yaitu Prof. Tang Xiaoyang (Tsinghua University, Tiongkok), Dr. Susan Engel (University of Wollongong, Australia), Dr. Manoj Kumar Panigrahi (O.P. Jindal Global University, India), serta Dr. Makmur Keliat (Universitas Indonesia). Seminar ini juga menjadi momentum refleksi lebih dari 70 tahun Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955, yang menjadi tonggak solidaritas negara-negara Global South dalam melawan kolonialisme dan imperialisme.
Kerjasama yang setara: Global South sebagai Antitesis Hegemoni Barat
Dalam paparannya, Prof. Tang Xiaoyang menekankan bahwa konteks Global South telah mengalami transformasi signifikan sejak era Bandung. Jika dahulu kepemimpinan Global South berakar pada semangat anti-kolonialisme, saat ini dinamika tersebut semakin didorong oleh perkembangan ekonomi dan kemunculan kekuatan baru seperti Tiongkok, Brasil, dan Rusia. Ia menyoroti bahwa negara-negara Global South kini berupaya membangun tatanan dunia baru yang lebih setara, tanpa mengarah pada konflik terbuka, melainkan melalui kerja sama yang setara di tengah kompetisi global. Dalam konteks ini, Global South dinilai memiliki potensi untuk mempertahankan globalisasi di saat negara-negara Barat cenderung mengalami gejala deglobalisasi.
Kesenjangan dan Kompleksitas Domestik sebagai Bumerang
Sementara itu, Dr. Susan Engel mengangkat pendekatan neo-Gramscian dalam melihat kepemimpinan Global South. Ia menekankan bahwa kepemimpinan tidak semata-mata dibangun melalui kekuatan material, tetapi juga melalui konstruksi ideologi dan konsensus sosial. Menurutnya, penting untuk mempertanyakan apakah proyek sosial yang dibangun oleh Global South bersifat emansipatoris atau justru reproduktif terhadap ketimpangan. Ia juga menyoroti perkembangan kerja sama Selatan-Selatan serta institusi seperti BRICS dan New Development Bank sebagai upaya alternatif terhadap sistem keuangan global, meskipun masih menghadapi tantangan terkait orientasi utang dibanding pembangunan.
Dari perspektif India, Dr. Manoj Kumar Panigrahi menyoroti bagaimana negara-negara Global South harus menghadapi rivalitas kekuatan besar sekaligus mengelola tantangan domestik seperti kemiskinan dan korupsi. Ia menjelaskan bahwa negara-negara seperti India mengadopsi strategi hedging dan keseimbangan dalam merespons dinamika global, sambil tetap menjaga kedaulatan politik dan memperluas kerja sama internasional. Ia juga menyoroti inisiatif seperti International Solar Alliance sebagai bentuk kontribusi Global South dalam isu global seperti perubahan iklim.
Melengkapi diskusi, Dr. Makmur Keliat menekankan pentingnya mendefinisikan ulang konsep Global South, apakah sebagai entitas politik atau ekonomi. Ia mengidentifikasi sejumlah tantangan utama, termasuk perbedaan kepentingan antarnegara, rivalitas antara kekuatan seperti India dan Tiongkok, serta hambatan struktural di tingkat domestik. Ia juga menekankan perlunya transformasi gagasan Global South menjadi langkah-langkah konkret, seperti penguatan konektivitas, pengembangan ekonomi maritim, hilirisasi industri, kedaulatan digital, serta mekanisme pembiayaan alternatif.
Visi ke Depan Global South: Lebih dari Sekadar Semangat Normatif
Sesi diskusi interaktif bersama peserta menyoroti berbagai isu krusial, seperti bagaimana menerjemahkan semangat Bandung ke dalam kebijakan konkret, peran Global South dalam mengatasi ketimpangan di kawasan ASEAN, serta tantangan pembangunan berkelanjutan. Para pembicara sepakat bahwa solidaritas tetap menjadi elemen penting, namun implementasi kebijakan tetap bergantung pada kapasitas dan komitmen masing-masing negara. Selain itu, muncul pula penekanan bahwa aktor non-negara, termasuk masyarakat sipil, memiliki peran strategis dalam mendorong agenda Global South yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Seminar ini menegaskan bahwa Global South bukan sekadar konsep normatif, melainkan proyek politik dan ekonomi yang terus berkembang. Di tengah fragmentasi sistem global dan meningkatnya rivalitas kekuatan besar, kepemimpinan Global South diharapkan mampu menghadirkan alternatif tatanan dunia yang lebih setara, inklusif, dan berkelanjutan. Namun demikian, tantangan implementasi dan perbedaan kepentingan internal tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus diatasi secara kolektif.
Melalui kegiatan ini, Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI berharap dapat terus mendorong dialog akademik dan pertukaran gagasan lintas negara dalam memahami dinamika global kontemporer, sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam diskursus Global South di tingkat internasional.
