HI FISIP UI dan UNPAZ Perkuat Diplomasi Pendidikan Indonesia–Timor-Leste

HI FISIP UI dan UNPAZ Perkuat Diplomasi Pendidikan Indonesia–Timor-Leste

Dili, Timor-Leste – Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (HI FISIP UI) melakukan kunjungan akademik ke Universidade da Paz (UNPAZ) di Dili, Timor-Leste, sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama pendidikan tinggi dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia di kawasan Asia Tenggara.

Kunjungan ini mencerminkan komitmen HI FISIP UI untuk memperluas peran pendidikan sebagai instrumen diplomasi yang mampu mempererat hubungan antar masyarakat dan institusi pendidikan di kawasan. Selain memperkuat hubungan kelembagaan antara kedua universitas, kegiatan ini juga membuka ruang dialog mengenai pengembangan program akademik yang relevan dengan kebutuhan regional.

Salah satu hasil utama dari kunjungan tersebut adalah pembahasan pengembangan Kelas Kolaborasi Diplomasi antara Program Magister Hubungan Internasional FISIP UI dan Program Magister Hubungan Internasional UNPAZ. Program ini dirancang untuk mempertemukan mahasiswa dari kedua negara dalam ruang pembelajaran bersama yang menghubungkan teori, praktik diplomasi, serta pemahaman terhadap dinamika kawasan.

Melalui kelas kolaboratif tersebut, mahasiswa diharapkan dapat memperluas perspektif internasional mereka sekaligus membangun jejaring akademik lintas negara sejak dini. Inisiatif ini juga menjadi contoh konkret bagaimana pendidikan dapat berfungsi sebagai sarana untuk memperkuat saling pengertian dan kerja sama regional.

Selain membahas pengembangan kelas kolaboratif, delegasi HI FISIP UI juga memperkenalkan berbagai peluang studi lanjut melalui Program Magister dan Program Doktor Hubungan Internasional kepada dosen dan mahasiswa UNPAZ. Langkah ini bertujuan mendukung peningkatan kapasitas akademik dan pengembangan sumber daya manusia di Timor-Leste.

Dalam rangkaian kegiatan yang sama, delegasi turut berdiskusi dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Dili mengenai peluang pengembangan program Sekolah ASEAN, sebuah inisiatif yang bertujuan meningkatkan pemahaman generasi muda Timor-Leste mengenai ASEAN dan dinamika kawasan Asia Tenggara.

Kunjungan ini menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Timor-Leste tidak hanya berkembang melalui diplomasi formal antarnegara, tetapi juga melalui kerja sama pendidikan, pertukaran pengetahuan, dan interaksi antarmasyarakat. Pendidikan menjadi jembatan penting yang memungkinkan lahirnya kolaborasi jangka panjang dan penguatan kapasitas generasi muda di kedua negara.

Melalui kerja sama dengan UNPAZ, HI FISIP UI terus memperkuat perannya sebagai institusi akademik yang aktif berkontribusi dalam pengembangan diplomasi pendidikan dan penguatan konektivitas kawasan. Ke depan, kedua institusi berkomitmen untuk menindaklanjuti berbagai inisiatif yang telah dibahas guna menciptakan kerja sama yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat akademik Indonesia dan Timor-Leste.

HI FISIP UI dan The University of Queensland Perkuat Kolaborasi Akademik Internasional

HI FISIP UI dan The University of Queensland Perkuat Kolaborasi Akademik Internasional

Brisbane, Australia – Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (HI FISIP UI) melakukan kunjungan akademik ke The University of Queensland (UQ), Australia, pada 18–21 Mei 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi dan memperluas jejaring akademik global.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi kedua institusi untuk membahas berbagai peluang kerja sama yang berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan, riset, dan mobilitas akademik. Melalui pertemuan tingkat pimpinan (executive-level meeting), kedua pihak mendiskusikan pengembangan program-program kolaboratif yang dapat memberikan manfaat langsung bagi mahasiswa dan dosen di kedua universitas.

Salah satu agenda utama dalam kunjungan tersebut adalah pembahasan pengembangan Program Double Degree Sarjana Hubungan Internasional, yang diharapkan dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman akademik lintas negara serta memperkuat kompetensi global mereka. Selain itu, kedua institusi juga mengeksplorasi peluang pengembangan Kelas Khusus Internasional, program pertukaran mahasiswa dan dosen, serta penyelenggaraan summer course dan visiting professor program.

Selain aspek pendidikan, pertemuan juga menyoroti pentingnya penguatan kolaborasi penelitian internasional. Dalam diskusi tersebut, HI FISIP UI dan UQ mengidentifikasi sejumlah bidang riset yang berpotensi dikembangkan bersama melalui skema joint research, publikasi kolaboratif, serta penyelenggaraan seminar dan kuliah tamu internasional.

Kunjungan ini turut memperkuat visibilitas Universitas Indonesia di lingkungan akademik global melalui pelaksanaan special lecture dan interaksi akademik dengan sivitas akademika The University of Queensland. Pertukaran gagasan yang berlangsung selama kegiatan menunjukkan adanya kesamaan komitmen untuk mendorong pengembangan pengetahuan yang lebih inklusif dan kolaboratif dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Ketua Delegasi HI FISIP UI menegaskan bahwa internasionalisasi pendidikan tinggi saat ini tidak lagi dipahami sekadar sebagai perluasan jejaring institusional, tetapi juga sebagai upaya menciptakan lebih banyak peluang pembelajaran, penelitian, dan pengembangan kapasitas bagi mahasiswa dan akademisi.

Melalui kunjungan ini, HI FISIP UI dan The University of Queensland menunjukkan komitmen bersama untuk membangun kemitraan akademik yang berkelanjutan. Berbagai inisiatif yang telah dibahas diharapkan dapat ditindaklanjuti dalam bentuk program konkret pada tahun akademik 2026–2027, sekaligus memperkuat kontribusi kedua institusi dalam pengembangan pendidikan tinggi dan riset internasional.

Global South dalam Pencarian Arti dan Peran: Menuju Solidaritas Yang Bermakna

Global South dalam Pencarian Arti dan Peran: Menuju Solidaritas Yang Bermakna

Depok, 5 Mei 2026, Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia (FISIP UI) sukses menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “Leadership Quest of the Global South: Representation, Development, and the Changing World Order” pada Selasa, 5 Mei 2026 di Auditorium Komunikasi FISIP UI. Seminar ini menghadirkan akademisi terkemuka dari berbagai negara untuk membahas dinamika kepemimpinan Global South di tengah perubahan tatanan dunia yang semakin kompleks dan multipolar. Kegiatan ini dimoderatori oleh Agung Nurwijoyo dan menghadirkan empat pembicara utama, yaitu Prof. Tang Xiaoyang (Tsinghua University, Tiongkok), Dr. Susan Engel (University of Wollongong, Australia), Dr. Manoj Kumar Panigrahi (O.P. Jindal Global University, India), serta Dr. Makmur Keliat (Universitas Indonesia). Seminar ini juga menjadi momentum refleksi lebih dari 70 tahun Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955, yang menjadi tonggak solidaritas negara-negara Global South dalam melawan kolonialisme dan imperialisme.

Kerjasama yang setara: Global South sebagai Antitesis Hegemoni Barat

Dalam paparannya, Prof. Tang Xiaoyang menekankan bahwa konteks Global South telah mengalami transformasi signifikan sejak era Bandung. Jika dahulu kepemimpinan Global South berakar pada semangat anti-kolonialisme, saat ini dinamika tersebut semakin didorong oleh perkembangan ekonomi dan kemunculan kekuatan baru seperti Tiongkok, Brasil, dan Rusia. Ia menyoroti bahwa negara-negara Global South kini berupaya membangun tatanan dunia baru yang lebih setara, tanpa mengarah pada konflik terbuka, melainkan melalui kerja sama yang setara di tengah kompetisi global. Dalam konteks ini, Global South dinilai memiliki potensi untuk mempertahankan globalisasi di saat negara-negara Barat cenderung mengalami gejala deglobalisasi.

Kesenjangan dan Kompleksitas Domestik sebagai Bumerang 

Sementara itu, Dr. Susan Engel mengangkat pendekatan neo-Gramscian dalam melihat kepemimpinan Global South. Ia menekankan bahwa kepemimpinan tidak semata-mata dibangun melalui kekuatan material, tetapi juga melalui konstruksi ideologi dan konsensus sosial. Menurutnya, penting untuk mempertanyakan apakah proyek sosial yang dibangun oleh Global South bersifat emansipatoris atau justru reproduktif terhadap ketimpangan. Ia juga menyoroti perkembangan kerja sama Selatan-Selatan serta institusi seperti BRICS dan New Development Bank sebagai upaya alternatif terhadap sistem keuangan global, meskipun masih menghadapi tantangan terkait orientasi utang dibanding pembangunan.

Dari perspektif India, Dr. Manoj Kumar Panigrahi menyoroti bagaimana negara-negara Global South harus menghadapi rivalitas kekuatan besar sekaligus mengelola tantangan domestik seperti kemiskinan dan korupsi. Ia menjelaskan bahwa negara-negara seperti India mengadopsi strategi hedging dan keseimbangan dalam merespons dinamika global, sambil tetap menjaga kedaulatan politik dan memperluas kerja sama internasional. Ia juga menyoroti inisiatif seperti International Solar Alliance sebagai bentuk kontribusi Global South dalam isu global seperti perubahan iklim.

Melengkapi diskusi, Dr. Makmur Keliat menekankan pentingnya mendefinisikan ulang konsep Global South, apakah sebagai entitas politik atau ekonomi. Ia mengidentifikasi sejumlah tantangan utama, termasuk perbedaan kepentingan antarnegara, rivalitas antara kekuatan seperti India dan Tiongkok, serta hambatan struktural di tingkat domestik. Ia juga menekankan perlunya transformasi gagasan Global South menjadi langkah-langkah konkret, seperti penguatan konektivitas, pengembangan ekonomi maritim, hilirisasi industri, kedaulatan digital, serta mekanisme pembiayaan alternatif.

Visi ke Depan Global South: Lebih dari Sekadar Semangat Normatif

Sesi diskusi interaktif bersama peserta menyoroti berbagai isu krusial, seperti bagaimana menerjemahkan semangat Bandung ke dalam kebijakan konkret, peran Global South dalam mengatasi ketimpangan di kawasan ASEAN, serta tantangan pembangunan berkelanjutan. Para pembicara sepakat bahwa solidaritas tetap menjadi elemen penting, namun implementasi kebijakan tetap bergantung pada kapasitas dan komitmen masing-masing negara. Selain itu, muncul pula penekanan bahwa aktor non-negara, termasuk masyarakat sipil, memiliki peran strategis dalam mendorong agenda Global South yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Seminar ini menegaskan bahwa Global South bukan sekadar konsep normatif, melainkan proyek politik dan ekonomi yang terus berkembang. Di tengah fragmentasi sistem global dan meningkatnya rivalitas kekuatan besar, kepemimpinan Global South diharapkan mampu menghadirkan alternatif tatanan dunia yang lebih setara, inklusif, dan berkelanjutan. Namun demikian, tantangan implementasi dan perbedaan kepentingan internal tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus diatasi secara kolektif.

Melalui kegiatan ini, Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI berharap dapat terus mendorong dialog akademik dan pertukaran gagasan lintas negara dalam memahami dinamika global kontemporer, sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam diskursus Global South di tingkat internasional.

Rekalibrasi Partisipasi Indonesia dalam Pasukan Perdamaian: Menuju Strategi Pemeliharaan Perdamaian yang Adaptif

Rekalibrasi Partisipasi Indonesia dalam Pasukan Perdamaian: Menuju Strategi Pemeliharaan Perdamaian yang Adaptif

Authors:

Broto Wardoyo – Associate Professor, Head of Department of International Relations, Universitas Indonesia

 

Ringkasan Eksekutif

  • Insiden gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) pada Maret 2026 menyoroti perlunya rekalibrasi kebijakan partisipasi Indonesia dalam misi penjaga perdamaian karena mencerminkan kesenjangan antara mandat tradisional PBB dan realitas konflik asimetris yang melibatkan aktor negara dan non-negara.
  • Sistem peacekeeping global tengah menghadapi krisis legitimasi dan kapasitas sedangkan perlindungan terhadap peacekeepers masih lemah akibat adanya deterrence gap dalam mekanisme akuntabilitas.
  • Policy brief ini merekomendasikan pendekatan bertahap. Dalam jangka pendek perlu ada fokus pada mitigasi risiko melalui penguatan perlindungan pasukan, pembaruan pelatihan, peningkatan akuntabilitas, dan komunikasi publik. Dalam jangka menengah perlu dilakukan rekalibrasi kontribusi menuju pendekatan selektif berbasis risiko serta advokasi penguatan mandat. Dan dalam jangka panjang perlu untuk mempertimbangkan reposisi Indonesia sebagai norm entrepreneur dalam reformasi peacekeeping global, guna meningkatkan keselamatan personel sekaligus memperkuat posisi strategis Indonesia di tingkat internasional.
Meninjau Ulang Signifikansi Kemitraan Indonesia-Jepang

Meninjau Ulang Signifikansi Kemitraan Indonesia-Jepang

Depok, 27 April 2026 – Pusat Studi Jepang (PSJ) Universitas Indonesia bekerja sama dengan Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia menyelenggarakan kuliah umum yang bertajuk Ambassadorial Lecture on Japanese Studies  dengan mengundang H.E. Mr. Myochin Mitsuru (Chargé d’Affaires ad interim (Plt. Duta Besar) Kedutaan Jepang untuk Republik Indonesia. Kegiatan yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya ini dihadiri oleh civitas akademika dari kedua institusi, mulai dari mahasiswa, dosen, dan pejabat fakultas ini membahas mengenai rekam jejak kemitraan kedua negara yang memiliki signifikansi secara geopolitik, ekonomi, dan kultural. Pada kesempatan ini, Dosen Departemen Hubungan Internasional Asra Virgianita, Ph.D juga menjadi moderator untuk memandu jalannya kuliah tamu. 

 

Peran Jepang bagi Indonesia di Tengah Pasang Surut 

Beberapa pengamat menilai bahwa pengaruh Jepang di Indonesia mulai menurun. Namun demikian, Myochin  menjelaskan bahwa sejak 1960-an, Jepang merupakan salah satu mitra penting bagi Indonesia pada sektor pembangunan dan perdagangan. Dalam data kumulatif periode 1960–2016, Jepang adalah donor Official Development Assistance (ODA) terbesar untuk Indonesia secara historis, unggul jauh dibanding negara-negara donor lainnya. Selain pembangunan, Jepang juga merupakan mitra dagang terbesar ketiga Indonesia setelah Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) pada 2024. 

 

Penguatan Kemitraan Strategis dan People-to-People Relations

Dalam paparannya, Mr. Myochin menegaskan bahwa kemitraan Indonesia–Jepang tetap relevan dan strategis karena ditopang hubungan yang saling melengkapi. Jepang berkontribusi melalui investasi berkualitas tinggi yang mampu menciptakan lapangan kerja, transfer teknologi, serta penguatan industri pendukung nasional, khususnya pada sektor manufaktur dan otomotif. Sementara itu, Indonesia menjadi mitra penting bagi Jepang melalui pasokan energi, mineral strategis, serta posisi geografis yang menentukan rantai pasok kawasan.

Ia juga menyoroti kuatnya hubungan people-to-people antara kedua negara. Jumlah warga negara Indonesia yang bekerja dan belajar di Jepang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Budaya populer Jepang seperti anime, manga, kuliner, serta pembelajaran bahasa Jepang telah memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat Indonesia. Kedekatan antar masyarakat ini menjadi pondasi penting yang menjaga hubungan bilateral tetap kokoh di tengah perubahan global.

 

Indo-Pasifik, Inovasi, dan Prospek Kerja Sama Masa Depan

Pada dimensi kawasan, Mr. Myochin menekankan pentingnya Indo-Pasifik sebagai ruang strategis baru. Jepang melalui Free and Open Indo-Pacific (FOIP) dan Indonesia melalui ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) dipandang memiliki visi yang sejalan, yakni mendorong kawasan yang terbuka, inklusif, terkoneksi, dan menghormati hukum internasional. Indonesia dinilai memiliki posisi sentral karena berada di persimpangan Samudra Hindia dan Pasifik, sekaligus menguasai jalur-jalur laut vital seperti Selat Malaka dan Selat Lombok.

Kuliah umum ini juga menyoroti pentingnya kerja sama ilmu pengetahuan dan inovasi. Salah satu contoh yang disampaikan adalah kolaborasi riset Jepang dengan mitra di Indonesia untuk pengembangan teknologi distribusi gas portabel yang berpotensi membantu wilayah kepulauan dan daerah terpencil. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemitraan kedua negara tidak hanya berhenti pada diplomasi tingkat tinggi, tetapi juga menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menutup kegiatan, para penyelenggara menyampaikan apresiasi atas kontribusi Kedutaan Besar Jepang serta antusiasme peserta yang hadir secara luring maupun daring. Melalui penyelenggaraan Ambassadorial Lecture on Japanese Studies edisi ke-14 ini, Universitas Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang dialog akademik yang memperkuat hubungan Indonesia–Jepang, sekaligus mendorong lahirnya gagasan baru bagi kerja sama bilateral di masa depan.

IR Youth Talks Bahas Dinamika Geopolitik Global dan Posisi Indonesia

IR Youth Talks Bahas Dinamika Geopolitik Global dan Posisi Indonesia

Depok, 21 April 2026 — Kegiatan IR Youth Talks yang diselenggarakan di Auditorium Suwantji, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, menghadirkan diskusi akademik mengenai dinamika geopolitik global dan implikasinya bagi Indonesia. Acara ini merupakan serial diskusi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek dengan Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI menjadi tuan rumah seri pertama. Diskusi ini menghadirkan Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso, Direktur Kajian Ideologi dan Politik, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI dan Broto Wardoyo, Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI, serta dimoderatori oleh Anggy Pasaribu.

Dalam paparannya, Brigjen Aloysius menekankan bahwa dinamika geopolitik global memiliki keterkaitan erat dengan perubahan domestik di Indonesia. Dia menjelaskan bahwa berbagai peristiwa global, mulai dari krisis finansial Asia 1997 hingga pandemi COVID-19, menunjukkan bagaimana guncangan eksternal dapat memengaruhi stabilitas politik dan ekonomi nasional. Dalam konteks kontemporer, meningkatnya kompetisi negara besar dan konflik global turut mendorong fragmentasi ekonomi dan politik yang berdampak langsung pada ruang kebijakan nasional. Lebih lanjut, dia menyoroti posisi Indonesia sebagai “swing state” di tengah kompetisi global. Dengan modalitas strategis yang dimiliki, Indonesia memiliki peluang untuk memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan kawasan. Namun, posisi tersebut juga diiringi oleh kerentanan geostrategis sehingga diperlukan penguatan ketahanan nasional melalui pendekatan komprehensif yang mencakup aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan keamanan.

Sementara itu, Broto Wardoyo mengajak peserta untuk memahami dinamika global sebagai sistem yang kompleks dan saling terhubung. Dia menekankan bahwa dunia saat ini ditandai oleh transisi kekuatan global, fragmentasi, serta meningkatnya risiko konflik antarnegara. Dalam situasi tersebut, pemahaman terhadap risiko perlu dilakukan secara berlapis, mulai dari level global, regional, hingga nasional, guna merumuskan respons kebijakan yang adaptif. Dia juga memperkenalkan konsep “resilience-based hedging” sebagai pendekatan strategis bagi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global. Strategi ini menggabungkan fleksibilitas dalam hubungan eksternal dengan penguatan kapasitas domestik sehingga negara tidak hanya mampu mengelola pilihan strategis, tetapi juga memiliki ketahanan terhadap dampak krisis global.

Diskusi ini berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif dari peserta, yang terdiri dari mahasiswa dan dosen di Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI dan kampus-kampus anggota AIHII Chapter Jabodetabek lain. Kegiatan ini menegaskan pentingnya ruang dialog akademik dalam memperkuat pemahaman generasi muda terhadap dinamika geopolitik serta mendorong kontribusi mereka dalam merespons tantangan global secara kritis dan berbasis pengetahuan.

Accessibility