Memperkuat Jejaring Akademik di Asia Timur: Catatan dari Perjalanan Dinas HI UI ke Korea Selatan
Selama enam hari, 25–30 Mei 2026, dua dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI, Makmur Keliat, Ph.D. and Asra Virgianita, Ph.D., melakukan perjalanan dinas ke Korea Selatan. Kunjungan ini membawa mereka ke dua kota — Busan dan Seoul — dan mempertemukan mereka dengan empat institusi mitra: Pukyong National University (PKNU), Yonsei University, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul, dan Seoul National University (SNU).
Perjalanan ini bukan kunjungan pertama. Ia merupakan implementasi tahun ketiga dari nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 21 November 2023 antara FISIP UI dengan Faculty of Humanities and Social Sciences PKNU, serta dengan Graduate School of International Studies (GSIS) Yonsei University. Sejak penandatanganan tersebut, kunjungan akademik rutin menjadi salah satu instrumen utama untuk menjaga keberlanjutan kerja sama kedua belah pihak.
Busan: Kuliah Umum dan Pengingat tentang Pentingnya Diplomasi Publik
Di Busan, kegiatan utama berlangsung di Pukyong National University, tempat kedua dosen HI UI memberikan kuliah umum kepada mahasiswa setempat. Di tengah sesi tersebut, muncul satu momen yang menjadi catatan reflektif bagi delegasi: ketika diberikan kuis ringan tentang ibu kota Indonesia, sebagian mahasiswa Korea Selatan menjawab “Kuala Lumpur”.
Momen kecil ini menjadi pengingat besar. Sejauh apapun hubungan diplomatik dan kerja sama institusional berkembang, pengenalan dasar tentang Indonesia di kalangan generasi muda Korea Selatan masih memerlukan perhatian lebih. Hal ini memperkuat urgensi peran people-to-people exchange dan diplomasi publik sebagai pelengkap kerja sama akademik formal — bukan sekadar pertukaran dokumen MoU, tetapi juga pertukaran pemahaman.
Di sisi lain, kunjungan ke PKNU juga membuka peluang konkret: pihak PKNU menyatakan akan mengajukan pendanaan dari ASEAN untuk mendukung program pengiriman mahasiswa mereka ke Universitas Indonesia, sebagai langkah lanjutan memperkuat program exchange student antara kedua institusi.
Seoul: Tiga Pertemuan, Tiga Arah Kolaborasi Baru
Memasuki Seoul, agenda delegasi semakin padat dengan tiga pertemuan penting.

Yonsei University menjadi tujuan pertama, di mana delegasi bertemu dengan pihak Graduate School of International Studies (GSIS). Salah satu hasil penting dari pertemuan ini adalah respons positif Yonsei terhadap tawaran untuk menjadi co-host International Postgraduate Students Conference (IPGSC) pada tahun mendatang. Pihak Yonsei meminta agar pembicaraan teknis mengenai kerja sama ini segera dimulai, mengingat proses perencanaan konferensi internasional membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Pertemuan kedua berlangsung di KBRI Seoul, yang membuka peluang bagi mahasiswa HI UI untuk melaksanakan program magang di lingkungan kedutaan. Meski KBRI tidak dapat memberikan dukungan pendanaan untuk program magang tersebut, pihak kedutaan menyampaikan bahwa posisi magang dapat diatur apabila pengajuan dan komunikasi dilakukan sejak jauh hari sebelumnya.

Pertemuan ketiga berlangsung di Seoul National University (SNU) — salah satu universitas dengan reputasi akademik tertinggi di Korea Selatan. Delegasi HI UI bertemu dengan Direktur Pusat Riset Asia Tenggara SNU, yang membuka kemungkinan kolaborasi riset antara kedua institusi pada isu-isu kawasan Asia Tenggara di masa mendatang.
Menyongsong Kerja Sama yang Lebih Berkelanjutan
Perjalanan dinas ini menegaskan bahwa hubungan akademik antara HI UI dan mitra-mitra Korea Selatan bergerak melampaui sekadar simbolisme MoU. Empat institusi yang dikunjungi membuka empat jalur kolaborasi yang berbeda — mulai dari pertukaran mahasiswa, kerja sama penyelenggaraan konferensi internasional, peluang magang diplomatik, hingga jejaring riset kawasan.
Ke depan, Departemen HI FISIP UI akan memulai komunikasi lebih awal dan lebih intensif dengan Yonsei University terkait rencana co-hosting IPGSC, sekaligus menjajaki realisasi program exchange student bersama PKNU. Peluang magang di KBRI Seoul dan kolaborasi riset dengan SNU juga akan menjadi agenda lanjutan yang memerlukan koordinasi dan perencanaan jangka panjang.
Sebagaimana ditegaskan dalam laporan kegiatan, keberhasilan kerja sama internasional bergantung pada konsistensi dan kontinuitas — bukan hanya pada momentum kunjungan, tetapi pada tindak lanjut yang terencana setelahnya.
