Depok, 22 Mei 2025 — Bagaimana posisi Indonesia dalam kancah ekonomi politik global di tengah ketidakpastian dunia? Pertanyaan ini menjadi fokus diskusi dalam Guest Lecture yang digelar oleh Program Sarjana Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), menghadirkan tokoh nasional Dr. (H.C.) Drs. H. M. Jusuf Kalla sebagai pembicara utama.
Dalam kuliah umum bertema “Ekonomi Politik Indonesia di Tengah Kondisi Global Terkini”, Jusuf Kalla—yang dua kali menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia (2004–2009 dan 2014–2019)—mengupas tuntas tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menghadapi krisis global yang kompleks: konflik geopolitik, proteksionisme ekonomi, hingga kemunduran multilateralisme.
“Negara maju adalah kunci untuk dihormati secara internasional. Kita butuh sikap yang tegas, bukan sekadar bebas aktif,” tegas Jusuf Kalla di hadapan peserta yang memadati Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI.

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 10.00 hingga 12.00 WIB ini dimoderatori oleh Emir Chairullah, Ph.D. yang juga sebagai dosen tetap di Departemen Hubungan Internasional FISIP UI berlangsung dinamis dengan sesi tanya jawab yang mengangkat isu mulai dari investasi asing, politik kesehatan global, hingga prospek diplomasi Indonesia dalam menghadapi tekanan internasional.
Dalam pemaparannya, Jusuf Kalla juga menyoroti peran penting pemerintahan yang kuat, akuntabel, dan demokratis sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. Jusuf Kalla menekankan pentingnya keberanian dalam pengambilan kebijakan yang berpihak pada rakyat serta membangun kepercayaan internasional melalui sistem hukum yang konsisten.
Menutup diskusi, Jusuf Kalla mengajak generasi muda untuk menjadi agen perubahan melalui aktivisme, pendidikan, dan penguasaan teknologi. “Optimisme masa depan bangsa ada di tangan pemuda,” pungkasnya.
Kegiatan ini menjadi momentum refleksi strategis bagi mahasiswa untuk memahami keterkaitan erat antara politik luar negeri dan dinamika ekonomi global—sebuah kompetensi esensial bagi calon diplomat dan analis kebijakan masa depan.
