Depok, 24 Juni 2026
– Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia (HI UI) bekerja sama dengan Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan webinar bertajuk “Arah Kebijakan Diplomasi Pertahanan Indonesia”. Kegiatan ini merupakan seri pertama dari rangkaian kolaborasi akademik antara kedua institusi yang bertujuan memperkuat diskusi, penelitian, dan rekomendasi kebijakan mengenai isu-isu strategis hubungan internasional Indonesia.

Dalam sambutannya, Ketua Departemen HI UI, Dr. Broto Wardoyo, menyampaikan bahwa kolaborasi ini diharapkan dapat berkontribusi pada penguatan ekosistem penelitian dan diskusi akademik di Indonesia. Webinar ini juga menjadi langkah awal bagi kerja sama yang lebih luas antara HI UI dan BRIN melalui berbagai kegiatan akademik dan riset pada isu-isu hubungan internasional, mulai dari pertahanan dan keamanan hingga ekonomi politik dan isu-isu transnasional.

Kepala Pusat Riset Politik BRIN, Dr. Atikah Nur Alami, menegaskan bahwa diplomasi pertahanan menjadi salah satu instrumen penting bagi Indonesia dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis global yang semakin kompleks. Selain memperkuat postur pertahanan nasional, diplomasi pertahanan juga berperan dalam membangun kepercayaan, memperluas kemitraan strategis, dan mendukung stabilitas kawasan.

Diplomasi Pertahanan dalam Lanskap Geopolitik yang Berubah

Webinar ini diselenggarakan di tengah meningkatnya kompleksitas geopolitik global, termasuk rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok, dinamika kawasan Indo-Pasifik, serta munculnya berbagai ancaman keamanan non-tradisional. Dalam konteks tersebut, diplomasi pertahanan tidak lagi dipahami semata sebagai kerja sama militer atau kunjungan resmi antarnegara, melainkan sebagai instrumen strategis yang turut membentuk posisi dan kepentingan nasional Indonesia di tingkat regional maupun global.

Diskusi juga menyoroti perkembangan diplomasi pertahanan Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang ditandai oleh intensifikasi kunjungan luar negeri, diversifikasi mitra pertahanan, serta peningkatan kerja sama strategis dengan berbagai negara. Perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana Indonesia dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan pragmatis dalam memperkuat pertahanan nasional dan komitmen terhadap prinsip politik luar negeri bebas aktif.

Meneguhkan Posisi Indonesia sebagai Middle Power

Sebagai narasumber utama, Dr. Indriana Kartini dari Pusat Riset Politik BRIN memaparkan sejumlah karakteristik diplomasi pertahanan Indonesia saat ini, termasuk modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), penguatan kapasitas pertahanan, dan upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai middle power.

Menurutnya, modernisasi pertahanan perlu diiringi dengan penguatan industri pertahanan nasional agar tidak hanya berorientasi pada pengadaan alutsista dari luar negeri. Transfer teknologi, keberlanjutan produksi dalam negeri, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam agenda pembangunan pertahanan Indonesia.

Lebih lanjut, Dr. Indriana menjelaskan bahwa diplomasi pertahanan Indonesia memiliki peran strategis sebagai confidence builder dan strategic balancer di kawasan. Melalui berbagai forum dan kerja sama pertahanan, Indonesia berupaya menjaga stabilitas kawasan sekaligus mempertahankan ruang manuver diplomatik di tengah kompetisi antar kekuatan besar. Pendekatan tersebut juga memperkuat posisi Indonesia dalam berbagai isu ekonomi, teknologi, dan keamanan regional.

Dari Forum Diskusi Menuju Agenda Riset Bersama

Sesi diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan mengenai relevansi politik luar negeri bebas aktif, hubungan Indonesia dengan mitra-mitra strategis di Barat maupun Global South, serta tantangan dalam merumuskan arah diplomasi pertahanan yang lebih konsisten dan berjangka panjang.

Menutup kegiatan, Dr. Broto Wardoyo menekankan pentingnya perumusan arah diplomasi pertahanan Indonesia secara lebih komprehensif melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pemangku kepentingan lainnya. Menurutnya, ruang-ruang diskusi akademik yang kritis perlu terus dikembangkan agar mampu menghasilkan masukan kebijakan yang konstruktif bagi Indonesia.

Webinar ini menjadi langkah awal dari rangkaian kolaborasi HI UI dan BRIN yang akan berlanjut melalui berbagai webinar tematik, penelitian bersama, serta pengembangan agenda akademik yang berkontribusi pada penguatan kajian hubungan internasional dan kebijakan strategis Indonesia.



Accessibility