Depok, 27 April 2026 – Pusat Studi Jepang (PSJ) Universitas Indonesia bekerja sama dengan Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia menyelenggarakan kuliah umum yang bertajuk Ambassadorial Lecture on Japanese Studies dengan mengundang H.E. Mr. Myochin Mitsuru (Chargé d’Affaires ad interim (Plt. Duta Besar) Kedutaan Jepang untuk Republik Indonesia. Kegiatan yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya ini dihadiri oleh civitas akademika dari kedua institusi, mulai dari mahasiswa, dosen, dan pejabat fakultas ini membahas mengenai rekam jejak kemitraan kedua negara yang memiliki signifikansi secara geopolitik, ekonomi, dan kultural. Pada kesempatan ini, Dosen Departemen Hubungan Internasional Asra Virgianita, Ph.D juga menjadi moderator untuk memandu jalannya kuliah tamu.
Peran Jepang bagi Indonesia di Tengah Pasang Surut
Beberapa pengamat menilai bahwa pengaruh Jepang di Indonesia mulai menurun. Namun demikian, Myochin menjelaskan bahwa sejak 1960-an, Jepang merupakan salah satu mitra penting bagi Indonesia pada sektor pembangunan dan perdagangan. Dalam data kumulatif periode 1960–2016, Jepang adalah donor Official Development Assistance (ODA) terbesar untuk Indonesia secara historis, unggul jauh dibanding negara-negara donor lainnya. Selain pembangunan, Jepang juga merupakan mitra dagang terbesar ketiga Indonesia setelah Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) pada 2024.
Penguatan Kemitraan Strategis dan People-to-People Relations
Dalam paparannya, Mr. Myochin menegaskan bahwa kemitraan Indonesia–Jepang tetap relevan dan strategis karena ditopang hubungan yang saling melengkapi. Jepang berkontribusi melalui investasi berkualitas tinggi yang mampu menciptakan lapangan kerja, transfer teknologi, serta penguatan industri pendukung nasional, khususnya pada sektor manufaktur dan otomotif. Sementara itu, Indonesia menjadi mitra penting bagi Jepang melalui pasokan energi, mineral strategis, serta posisi geografis yang menentukan rantai pasok kawasan.
Ia juga menyoroti kuatnya hubungan people-to-people antara kedua negara. Jumlah warga negara Indonesia yang bekerja dan belajar di Jepang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Budaya populer Jepang seperti anime, manga, kuliner, serta pembelajaran bahasa Jepang telah memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat Indonesia. Kedekatan antar masyarakat ini menjadi pondasi penting yang menjaga hubungan bilateral tetap kokoh di tengah perubahan global.
Indo-Pasifik, Inovasi, dan Prospek Kerja Sama Masa Depan
Pada dimensi kawasan, Mr. Myochin menekankan pentingnya Indo-Pasifik sebagai ruang strategis baru. Jepang melalui Free and Open Indo-Pacific (FOIP) dan Indonesia melalui ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) dipandang memiliki visi yang sejalan, yakni mendorong kawasan yang terbuka, inklusif, terkoneksi, dan menghormati hukum internasional. Indonesia dinilai memiliki posisi sentral karena berada di persimpangan Samudra Hindia dan Pasifik, sekaligus menguasai jalur-jalur laut vital seperti Selat Malaka dan Selat Lombok.
Kuliah umum ini juga menyoroti pentingnya kerja sama ilmu pengetahuan dan inovasi. Salah satu contoh yang disampaikan adalah kolaborasi riset Jepang dengan mitra di Indonesia untuk pengembangan teknologi distribusi gas portabel yang berpotensi membantu wilayah kepulauan dan daerah terpencil. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemitraan kedua negara tidak hanya berhenti pada diplomasi tingkat tinggi, tetapi juga menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menutup kegiatan, para penyelenggara menyampaikan apresiasi atas kontribusi Kedutaan Besar Jepang serta antusiasme peserta yang hadir secara luring maupun daring. Melalui penyelenggaraan Ambassadorial Lecture on Japanese Studies edisi ke-14 ini, Universitas Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang dialog akademik yang memperkuat hubungan Indonesia–Jepang, sekaligus mendorong lahirnya gagasan baru bagi kerja sama bilateral di masa depan.
