Jonathan Jordan
HI UI 2024
Hubungan Internasional (HI) adalah ilmu elit yang menarasikan proses dan peristiwa di luar cakupan keseharian. Pernyataan tersebut merupakan stereotipe yang telah dibangun selama lebih dari seabad berkat berbagai literatur dan pandangan yang mendominasi ilmu tersebut.
Paradigma-paradigma yang selama ini menguasai HI acap kali berfokus pada unit analisis negara. Sebagai contoh, realisme struktural menekankan negara, kepentingannya, beserta struktur internasional dan bahkan tidak mengakui keberadaan ruang domestik dalam analisisnya. Oleh karena itu, apa yang dianggap lumrah dan berkaitan dengan keseharian orang biasa termarginalisasi dalam kajian HI atau dianggap tidak ada sama sekali dalam fenomena internasional.
Namun, keabsenan sehari-hari dalam HI tidak harus konstan. Sekarang, suatu konsep sedang berkembang untuk mengisi kekosongan tersebut, yakni Everyday IR (HI sehari-hari). Everyday IR memiliki banyak definisi, tetapi premisnya adalah mengenalkan keseharian nonelit orang biasa dalam kerangka analisisnya.
Pendekatan ini menggeser fokus HI ke hal-hal lumrah, aktor-aktor yang terabaikan, dan bagaimana mereka memengaruhi atau dipengaruhi fenomena HI. Kunci di sini adalah memperlakukan komponen-komponen yang terlupakan tersebut bukan sebagai sesuatu yang tidak bermakna, melainkan sebagai hal yang memiliki relevansi dalam HI. Dengan demikian, artikel ini bertujuan memaparkan alasan Everyday IR harus lebih dibahas dalam ilmu HI dengan meninjau mengapa Everyday IR termarginalisasi, manfaat kajiannya, dan contoh Everyday IR dalam konteks Indonesia.
Keabsenan kajian sehari-hari dalam HI dimulai sejak penetapannya sebagai disiplin di Aberystwyth, Inggris, pada 1919. Disiplin ini dibentuk sebagai respons kehancuran Perang Dunia Pertama sehingga perang dan perdamaian merupakan isu utama HI tradisional dengan pendekatan yang berfokus pada negara, liberalisme utopis—setidaknya pada awal Periode Antarperang—dan realisme Eropa.
Dalam konteks tradisional ini, HI merupakan ilmu yang dibuat untuk memecahkan masalah-masalah besar yang dialami negara di atas keseharian kehidupan manusia, sehingga tidak perlu memperhatikannya. Hal tersebut bahkan dapat dilihat dalam isu-isu besar lain yang mekar kemudian, seperti ekonomi politik internasional dan masyarakat internasional (international society), yang berfokus pada pengelolaan tatanan dunia oleh negara.
Seiring berjalannya waktu, HI berkembang, tetapi fokusnya tetap pada masalah yang jauh dari kehidupan sehari-hari yang diperkuat oleh akademisi HI. Saat Perang Dingin, pandangan-pandangan positivis dan rasional, seperti neorealisme dan neoliberalisme, mendominasi HI dalam upaya membuatnya lebih menyerupai ilmu alam.
Pemikiran-pemikiran positivis tersebut memusatkan perhatian mereka pada aktor negara dalam struktur internasional dan bahkan menganggapnya hal natural (given), bukan konstruksi sosial sehingga apa yang dianggap keseharian kehidupan tidak memasuki kerangka analisis sama sekali. Bahkan konstruktivisme tidak menyisihkan perhatian kepada keseharian secara memuaskan.
Kendati beberapa akademisi HI telah berupaya menghubungkan keseharian dengan internasional, khususnya peneliti teori feminis, area ini tetap termarginalisasi dalam disiplin yang kerap kali lebih suka membahas tentang negara, tatanan internasional, dan institusi.
Dominasi negara dalam HI tidak lepas dari faktor yang mendorong arah perkembangan disiplin tersebut, yakni ketimpangan hierarki dalam sistem internasional. Meski anarki— ketiadaan otoritas di atas negara—merupakan tema sentral dalam HI, suatu hierarki terbentuk sebelum dan setelah Perang Dunia Kedua yang memosisikan Barat pada puncaknya. Hegemoni Barat pun membawa dominasi dalam produksi dan reproduksi ilmu HI, sehingga pandangan-pandangan arus utama sesuai dengan kepentingan dan preferensi Barat.
Kendati Everyday IR bukan secara inheren Barat ataupun non-Barat, konsep negara merupakan unit analisis utama HI Barat yang diekspor ke berbagai penjuru dunia dan kepentingan Amerika Serikat sendiri mendorong reproduksi konsep negara sebagai suatu hal yang natural (given) melalui paradigma positivis.
Lihat saja konsep-konsep HI alternatif yang bahkan tidak mengenal konsep negara dan kedaulatan, seperti Tianxia Tiongkok, yang mengalami kemunduran berkat dominasi Barat. Oleh sebab itu, potensial perkembangan Everyday IR berkurang secara signifikan akibat faktor dominasi dan kepentingan negara-negara Barat dalam ilmu HI.
Pengabaian keseharian dalam HI telah menciptakan gap besar antara Everyday IR dan HI konvensional. Perhatian yang diberikan akademisi terhadap bidang ini memang meningkat, tetapi belum memuaskan, khususnya di negara-negara seperti Indonesia. Beberapa manfaat dapat diraup jika lebih banyak perhatian dituangkan untuk mengkaji keseharian dalam HI, yakni sebagai berikut.
Pertama, pengkajian mendalam Everyday IR memberikan wawasan yang lebih luas tentang HI. Tidak diragukan bahwa Everyday IR merupakan cara yang tidak konvensional dalam menganalisis HI. Walakin, justru hal tersebut adalah kekuatannya.
Everyday IR dapat membuka pintu kepada aspek-aspek keseharian yang selama ini tersembunyi dalam HI, seperti agensi manusia (human agency) dan praktik politik mikro, yang memengaruhi dan dipengaruhi oleh fenomena makro. Dengan demikian, akademisi, praktisi, dan pelajar HI bisa mendapatkan pemahaman holistik akan kompleksitas HI yang juga menyentuh kehidupan sehari-hari.
Kedua, Everyday IR menantang hegemoni unilateral yang telah mendominasi HI. Dengan memberikan ruang guna perkembangan, Everyday IR dapat berkontribusi dalam pemenuhan seruan HI Global (Global IR) yang berupaya membuat HI lebih inklusif. Everyday IR dapat mendampingi, tetapi tidak menggantikan teori-teori HI lainnya yang berpusat pada negara agar suatu universalisme plural dan pembantahan akan superioritas pandangan tertentu terlaksana.
Selain itu, cara pandang baru ini memberikan ruang kepada jenis agensi yang dilaksanakan individu biasa pada level mikro yang dapat memengaruhi peristiwa internasional. Lebih-lebih, dengan kemunduran hegemoni Barat dan peleburannya dalam tatanan global, kajian Everyday IR dapat memanfaatkan momentum ini untuk meluaskan wawasan dan menarik minat dunia HI.
Ketiga, Everyday IR akan membuat HI lebih mudah diakses dan relevan kepada khalayak umum. Premis Everyday IR adalah mengenalkan keseharian dan hal-hal lumrah dalam kerangka analisis HI.
Dengan melakukan ini, area disiplin tersebut memberi panggung kepada aspek-aspek dunia yang lebih relevan kepada khalayak umum sehingga HI dapat bergerak keluar dari stereotipenya sebagai ilmu elit dengan juga meneliti hal nonelit. Peran individu, seperti pedagang kaki lima, dan keseharian, seperti berkomuter, yang selama ini termarginalisasi dapat dikaji secara mendalam sehingga Everyday IR dapat mencari cara untuk memberdayakan mereka dalam konteks internasional.
Dengan manfaat-manfaat demikian, Everyday IR harus dikembangkan lebih lanjut, khususnya di negara-negara dengan kajian minim berkaitan dengannya, seperti Indonesia. Berkaitan dengan itu, berikut beberapa contoh yang mana Everyday IR dapat diaplikasikan untuk melihat hubungan antara peristiwa mikro dan makro di Indonesia.
Pertama, kemungkinan kembalinya militerisme dalam kehidupan sipil dan normalisasinya di Indonesia dapat ditinjau lebih lanjut untuk melihat bagaimana keseharian tersebut dapat memengaruhi hubungan luar negeri Indonesia. Sebuah artikel karya peneliti feminis HI Linda Åhäll bertajuk “Feeling Everyday IR: Embodied, Affective, Militarising Movement as Choreography of War” (2019) membahas topik tersebut.
Åhäll membahas bagaimana aktivitas orang biasa sehari-hari yang berkaitan dengan militer, seperti pameran kemiliteran dan pengenangan akan pertempuran, yang telah ternormalisasi dapat memperkuat militerisme dalam masyarakat dan berdampak pada keamanan. Cara serupa dapat digunakan untuk meninjau normalisasi militer dalam kehidupan masyarakat sipil Indonesia dan implikasinya terhadap keamanan.
Kedua, aktivitas keseharian komuter menyediakan lapangan yang dapat diteliti Everyday IR. Sebagai contoh, jumlah komuter yang meningkat dapat mempererat kerja sama akan negara tertentu dan membangun persepsi khalayak umum akannya.
Hal tersebut dapat dilihat melalui pembelian kereta komuter baru dari Tiongkok untuk memutakhirkan dan memperbesar kapasitas armada. Selain itu, wacana kereta api (KA) petani-pedagang yang terinspirasi oleh Tiongkok dapat ditinjau dalam konteks Everyday IR untuk menyelidiki bagaimana praktik komersial masyarakat petani-pedagang dan pengaruh Tiongkok saling berhubungan.
Ketiga, dampak komunitas keturunan diaspora di Indonesia terhadap fenomena HI dapat diselidiki lebih mendalam. Berkat letak Indonesia yang strategis, banyak pendatang dari Tiongkok, India, Timur Tengah, dan sebagainya berbaur dan menetap di negeri ini.
Mereka telah terintegrasi menjadi rakyat Indonesia, tetapi status dan asosiasi unik mereka kepada negara nenek moyang mereka dapat memengaruhi kebijakan-kebijakan luar negeri. Hubungan tersebut dapat dikaji lebih lanjut melalui lensa Everyday IR.
Everyday IR merupakan kesempatan bagus untuk mengembangkan disiplin HI dengan menggeserkan fokus kepada aktor-aktor yang termarginalisasi dan aktivitas sehari-hari untuk meninjau dampaknya kepada politik makro. Selama ini, Everyday IR diabaikan karena fokus tradisional HI kepada negara yang didorong oleh hegemoni dan preferensi Barat.
Namun, bidang ini mulai dilirik oleh beberapa akademisi sebagai alternatif untuk menjelaskan fenomena HI dan cara berkontribusi mewujudkan visi HI Global di tengah pergantian tatanan dunia. Tiga contoh yang telah disebutkan di atas menunjukkan bahwa Everyday IR masih memiliki banyak potensi untuk dikembangkan dan diaplikasikan. Oleh karena itu, kajian area ilmu HI yang belum sepenuhnya berkembang matang ini harus dimanfaatkan dan diintensifkan demi masa depan yang lebih mencerahkan dan inklusif.
Referensi
Acharya, Amitav, dan Barry Buzan. “Why is There No Non-Western International Relations Theory? An Introduction.” Dalam Non-Western International Relations Theory: Perspectives on and beyond Asia. Disunting oleh Amitav Acharya dan Barry Buzan. Oxon: Routledge, 2010. 1-25.
Acharya, Amitav. “Towards a Global International Relations?” E-International Relations. Diakses 18 Agustus 2025. https://www.e-ir.info/2017/12/10/towards-a-global-international-relations.
Acharya, Amitav. “Goodbye West: Long Live World Order.” E-International Relations. Diakses 18 Agustus 2025. https://www.e-ir.info/2025/03/13/goodbye-west-long-live-world-order.
Acuto, Michele. “Everyday International Relations: Garbage, Grand Designs, and Mundane Matters.” International Political Sociology 8, no. 4 (2014): 345-362. https://doi.org/10.1111/ips.12067.
Åhäll, Linda. “Feeling Everyday IR: Embodied, Affective, Militarising Movement as Choreography of War.” Cooperation and Conflict 54, no. 2 (2019): 149-166. https://doi.org/10.1177/0010836718807501.
Björkdahl, Annika, Martin Hall, dan Ted Svensson. “Everyday International Relations: Editors’ Introduction.” Cooperation and Conflict 54, no. 2 (2019): 123-130. https://doi.org/10.1177/0010836719845834.
Fitriani, Evi. “Linking the Impacts of Perception, Domestic Politics, Economic Engagement, and the International Environment on Bilateral Relations between Indonesia and China in the Onset of the 21st Century.” Journal of Contemporary East Asia Studies 10, no. 2 (2021): 183-202. https://doi.org/10.1080/24761028.2021.1955437.
Hopf, Ted. “The Promise of Constructivism in International Relations Theory.” International Security 23, no. 1 (1998): 171-200. https://doi.org/10.2307/2539267.
Jackson, Robert, dan Georg Sørensen. Introduction to International Relations: Theories and Approaches. 5th ed. Oxford: Oxford University Press, 2013.
Pusparisa, Yosepha D. R. “Terinspirasi China, KAI Berencana Hadirkan Kereta Petani-Pedagang.” Kompas. Diakses pada 18 Agustus 2025. https://www.kompas.id/artikel/terinspirasi-china-kai-berencana-hadirkan-ka-petani-pedagang.
Qin, Yaqing. “Why Is There No Chinese International Relations Theory?” Dalam Non-Western International Relations Theory: Perspectives on and beyond Asia. Disunting oleh Amitav Acharya dan Barry Buzan. Oxon: Routledge, 2010. 26-50.
Solomon, Ty, dan Brent J. Steele. “Micro-moves in International Relations Theory.” European Journal of International Studies 23, no. 2 (2017): 267-291.
Steele, Brent J. “Revisiting Classical Functional Theory: Towards a Twenty-First Century Micro-Politics,” Journal of International Political Theory 7, no. 1 (2011): 16-35. https://doi.org/10.3366/jipt.2011.0004.
Waltz, Kenneth N. “The Anarchic Structure of World Politics.” Dalam International Politics: Enduring Concepts and Contemporary Issues. 13th ed. Disunting oleh Robert J. Art dan Robert Jervis. New York: Pearson, 2016. 48-70.
