Regina Lucia Madeline Bangun & Nicholas Alexander Herman

HI UI 2024

 

Gedung-gedung pencakar langit, mobil-mobil mewah, dan pemandangan fantastis kerap disuguhkan dalam film, baik layar lebar maupun layar kecil, besutan AS (Amerika Serikat). Nuansa mewah atau sarat teknologi mutakhir, serta aksi heroik pemain utama yang “ideal” dan didominasi oleh alur utopis, ditampilkan sebagai pelengkap sempurna untuk memvisualisasikan kesuksesan AS. Tak jarang pula, film-film AS berhasil menorehkan warisan kultural bagi khalayak ramai, mulai dari tren busana hingga gaya berbicara. 

Namun, penonton jarang mengetahui bahwa melalui sajian film tersebutlah, AS dapat dengan “halus” melancarkan strateginya dalam membentuk persepsi penonton sehingga terbias terhadap AS. Terlepas dari kecerdikannya, AS telah sukses menjadi negara yang mampu memproyeksikan diplomasi publik dan memengaruhi opini publik internasional dalam pemenuhan kepentingan nasional negaranya.  

 

Sang Raksasa Sinema

Perkembangan inovasi fotografi pada abad ke-19 melalui penemuan kamera pistol kronofotografi, fonograf, hingga kamera kinetograf oleh Edison dan Dickson – yang dianggap sebagai kamera film pertama – mendukung terciptanya pionir industri film di dunia. Film bergaya Edison yang diproduksi menggunakan Vitascope, proyektor film pertama, menjadi salah satu jenis film awal yang ditampilkan di AS. Film Vitascope lebih tampak sebagai gambar atau foto yang “bergerak” jika dibandingkan dengan film modern. Industri film AS, yang awalnya bersifat otonom dan uniter, mulai berubah menjadi lebih fleksibel dan dinamis pada 1897 ketika para manufaktur film mulai menjual baik proyektor maupun film mereka secara langsung kepada pedagang pameran keliling.

Industri film AS kian populer usai merilis film-film lain yang memiliki tingkat kesuksesan yang tinggi. Film seperti The Birth of A Nation (1915) karya Griffith yang mengisahkan tentang perang sipil dan rekonstruksi pascakonflik berhasil menuai respons positif dari penonton sedemikian hingga menuai popularitas yang tinggi. Inovasi revolusioner berupa penggunaan audio atau suara dalam film, ditambah dengan kian melemahnya industri film Eropa pada masa Perang Dunia I, juga turut mendukung kejayaan AS sebagai produsen film (Alan Gordon Enterprises, 2014). Film The Jazz Singer (1927) yang dibintangi Al Jolson dan City Lights (1931) yang dibintangi oleh Charles Chaplin menjadi beberapa film tenar dengan suara yang sukses mengharumkan industri perfilman AS. Berbagai rumah produksi film mulai dari skala mini hingga raksasa, seperti Universal Studios, Paramount Pictures, Walt Disney, Metro-Goldwyn-Mayer (MGM), mulai beroperasi. Hingga kini, sejumlah studio film raksasa tersebut masih berdiri. Bahkan, kini, studio baru yang sukses merilis film yang tak kalah beken juga mulai bermunculan, seperti Lionsgate Studios dan A24. 

Keberhasilan ini turut menguntungkan pengaruh AS dalam dunia internasional sepanjang sejarah. Dalam buku One World, Big Screen: Hollywood, the Allies, and World War II, M. Todd Bennett (2012) menyebutkan bahwa film menjadi sarana bagi AS untuk menyebarkan propaganda terhadap sekutu-sekutu besarnya guna mencapai tatanan dunia liberal idamannya. Bennet menjelaskan bahwa AS menyintesis sebagian besar historiografi yang relevan terkait sekutunya dengan riset mendalam dari arsip negara sekutu, dan bahkan arsip AS sendiri, untuk mendukung kelancaran propagandanya dengan basis faktual.

 

Diplomasi Publik ala AS

AS menggunakan film sebagai instrumen diplomasi publik dalam memengaruhi persepsi internasional. Nye (2008) mendefinisikan diplomasi publik sebagai instrumen yang digunakan pemerintah suatu negara untuk memobilisasi keunggulan kultural domestiknya guna menjalin komunikasi dan menarik publik dari negara lain. Hal ini bertujuan agar masyarakat internasional memiliki pandangan positif atas negara tersebut guna memudahkan proses pencapaian kepentingan nasional dalam panggung internasional. 

  AS telah menjadikan film sebagai kendaraan ideologis yang strategis dalam membentuk persepsi publik global. Proses ini tidak dilakukan secara eksplisit, tetapi melalui representasi simbolik dan narasi yang disusun dengan perlahan dalam film. Melalui penggambaran nilai-nilai seperti demokrasi, kebebasan, keadilan, serta kemajuan teknologi dan sosial, sinema membingkai AS bukan hanya sebagai negara adidaya, melainkan juga sebagai model ideal peradaban modern yang menjadi “teladan” dalam pembangunan (Quart & Auster, 2001).

Di satu sisi, diplomasi publik yang dilakukan AS melalui sinema berpotensi memperoleh respons negatif, seperti penolakan dari penonton konservatif muslim yang enggan melihat adegan telanjang dan kekerasan yang dianggap terlalu vulgar dalam kebanyakan film rilisan Hollywood. Namun, di sisi lain, strategi ala AS ini tetap dianggap berhasil karena mampu menempatkan negaranya sebagai “inspirasi” melalui kepiawaian permainan layar kacanya (Vedrine dan Moisi, 2001 dalam Nye, 2008). Taktik ini diwujudkan melalui penggunaan unsur-unsur budaya populer sebagai instrumen kultural yang lebih autentik ala AS, seperti bahasa Inggris sebagai bahasa utama film, gaya hidup karakter yang utopis, hingga penampilan kota-kota AS yang menawan dan tertata. 

Strategi ini terpampang jelas dalam, misalnya, film terbaru rilisan Marvel Studios yang berjudul The Fantastic Four: First Steps. Film ini memvisualisasi New York sebagai kota yang retro-futuristik nan ciamik. Adegan-adegan film yang diisi oleh empat aktor, yang berperan sebagai pahlawan dengan berbagai aksi heroik, juga seolah menegaskan superioritas masyarakat AS dalam konteks masyarakat internasional. Peran pahlawan yang didominasi oleh pria kekar dan ideal kian menekankan figur AS sebagai negara yang maskulin dan kuat. Salah satu pernyataan, “yes, we are,” yang terdapat dalam cuplikan film, ketika para pahlawan ditanya salah satu tokoh antagonis utama, secara implisit telah menanamkan bahwa AS merupakan hegemon dunia kepada khalayak ramai.

Strategi diplomasi publik AS tidak hanya dilancarkan pada masa kontemporer. AS telah melancarkan strategi diplomasi publik melalui sinema untuk membingkai citra positif negaranya bahkan sebelum filmnya dijadikan sebagai standar kesuksesan dunia perfilman internasional seperti masa kini. Selama Perang Dunia II, pemerintah AS, melalui Office of War Information (OWI), bekerja sama dengan Hollywood untuk memproduksi film-film propaganda yang membangun narasi perjuangan moral AS dan sekutu-sekutunya. Film seperti Casablanca (1942), disebarluaskan ke berbagai negara untuk memperkuat simpati publik terhadap posisi AS yang menentang keberadaan Nazi. Film yang berlatar Perang Dunia II ini minim penjahat, tetapi jalan cerita yang menegangkan akibat ancaman Nazi seolah menyampaikan pesan implisit bahwa Nazi merupakan antagonis sesungguhnya dan AS berdiri sebagai pihak “baik”. Casablanca bersama beberapa film lain, seperti The Great Dictator (1940) dan The Mortal Storm (1940), turut dirilis oleh AS sebagai bentuk penolakan atas perang sekaligus memperkenalkan nilai-nilai demokrasi, kebebasan, dan hegemoni global.

 

Dampak Diplomasi Publik AS Melalui Film

Industri film AS, yang saat ini berpusat di Hollywood, telah berhasil “menjual” AS ke dunia dengan citra masyarakat utopis yang bebas kesalahan (Ibbi, 2014). Aksi heroik, maskulin, dan liberal yang kerap disajikan dalam film pahlawan super besutan AS layaknya bius yang mendorong khalayak ramai mengidolakan AS dan penumbuhan perspektif positif seputar negara Paman Sam tersebut. Efek domino dari pengaruh AS layaknya medan magnet yang mulai mengatur gaya dan arus tren dunia. Hal ini terlihat dari meningkatnya ketertarikan masyarakat dunia terhadap produk-produk AS, mulai dari fesyen, musik, makanan cepat saji, hingga universitas dan visa kerja.  Hal ini menunjukkan bahwa sinema AS berhasil menciptakan efek simbolik dalam budaya yang disebut sebagai American way of life (Li, 2020). 

Dengan kemampuan film-film AS dalam menarik penonton dan menyentuh aspek emosional penonton, film AS dapat menjadi alat persuasi massal yang efektif dan tahan lama. Penonton tidak hanya melihat film sebagai hiburan, tetapi juga secara tidak sadar menginternalisasikan nilai-nilai dan perspektif politik yang disisipkan secara simbolis. Seperti yang ditekankan oleh presiden ke-34 AS, Dwight Eisenhower, American way of life justru dibentuk oleh perspektif dunia luar terhadap AS, yang mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan keadaan nyata di AS. Eisenhower mengatakan bahwa perspektif ini menunjukan superioritas kapitalisme dan liberalisme daripada komunisme pada masa Perang Dunia II dan Perang Dingin. Terutama pada masa perang, soft power yang digunakan oleh AS menjadi alat persuasif atau justifikasi dari setiap tindakan AS. Dalam hal ini, sinema AS telah menjadi media soft power yang dapat menarik penonton dan mengubah pandangan orang banyak (Nye, 2004). 

Pengaruh sinema AS yang melampaui batasan negara dengan jejaring internasional ini turut terlihat dari bagaimana industri film lain seperti Bollywood (India) dan Nollywood (Nigeria) mengadopsi gaya penulisan naratif, teknik produksi, hingga model distribusi Hollywood sebagai standar atau acuan (Sunder, 2011). Meskipun dengan konteks lokal masing-masing, upaya meniru Hollywood ini merupakan salah satu bukti nyata kuatnya posisi AS sebagai pelopor dan tolok ukur dalam diplomasi budaya global. Hal ini menjadi sebuah bentuk pengakuan secara tidak langsung atas keberhasilan AS dalam membentuk perspektif dunia melalui kekuatan sinema. Hal ini didukung pula oleh penelitian Rodman (2006), yang menjelaskan bahwa meski banyak film dari berbagai belahan bumi lain kerap terinspirasi dari film AS, biasanya film-film ini tidak mencuri perhatian dalam skala masif sebagaimana film-film AS, yang telah berhasil memiliki target pasarnya tersendiri. 

 

Kesimpulan

Industri film AS yang telah berdiri sejak abad ke-19 berhasil mencapai kesuksesan melalui perjalanan yang panjang. Ragam inovasi dan ide menarik dalam perfilman yang unik mampu membawa AS mengalahkan para produsen film pesaingnya dan tampil sebagai sorotan utama dengan pengaruh kuat. Hal ini dimanfaatkan sebagai strategi diplomasi demi mencapai kepentingan nasional serta membangun citra positif negaranya dalam dunia internasional. Sinema menjadi salah satu bentuk diplomasi soft power yang memiliki dampak signifikan dalam membentuk persepsi global terhadap AS. Pandangan yang melewati batasan global menjadi salah satu bentuk persuasif pada masa-masa krisis seperti Perang Dunia II. AS menjadikan sinema sebagai salah satu bentuk jejaring internasional dengan bukti nyata negara-negara lain yang meniru dan menggunakan standar AS sebagai acuan mereka.

Proses westernisasi yang amat kuat dalam menyetel tren global juga tidak terlepas dari hasil diplomasi publik ala AS ini. Glorifikasi AS sebagai negara utopis telah membawanya sebagai negara idola masyarakat global. Di satu sisi, hal ini dapat dijadikan acuan oleh negara lain dalam membangun diplomasi publik melalui keunggulan budaya yang dimilikinya layaknya AS. Namun, pada saat yang bersamaan, suksesnya diplomasi AS menunjukkan bahwa tatanan liberal yang ada kini tidak terlepas dari strategi “halus” hegemon dalam memainkan kondisi psikologis masyarakat internasional agar berpihak padanya.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Alan Gordon Enterprises. (2014, February 11). American Film: A Brief History. https://www.alangordon.com/american-film-a-brief-history 

Bennett, M. T. (2012). One world, big screen: Hollywood, the Allies, and World War II. UNC Press Books.  

Cook, D.A., Sklar, R. (2025, June 20). History of film. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/art/history-of-film 

Deng, C. (28 April 2023). Kinetograf . Encyclopedia Britannica . https://www.britannica.com/technology/Kinetograph 

Hu, B. T. X. (2023). Research on the influence of war on film art taking Casablanca during World War II as an example. Communications in Humanities Research, 14(1), 106–110. https://doi.org/10.54254/2753-7064/14/20230418 

Ibbi, A. A. (2014). Hollywood, the American Image and the global film industry. CINEJ Cinema Journal, 3(1), 93–106. https://doi.org/10.5195/cinej.2013.81 

Kornits, D., & Kornits, D. (2020, October 4). How A24 became the coolest Mini-Major on Earth. FilmInk. https://www.filmink.com.au/how-a24-became-the-coolest-mini-major-on-earth/ 

Li, N. (2020). Descriptive analysis of American culture, values, and beliefs. International Journal of Humanities and Social Science. https://doi.org/10.30845/ijhss

LIONS GATE ENTERTAINMENT COR (LGF:New York): Stock quote & Company Profile – Businessweek. (n.d.). Businessweek.com. https://web.archive.org/web/20150101144833/http://investing.businessweek.com/research/stocks/snapshot/snapshot.asp?ticker=LGF 

Nye, J. S. (2004). Soft power: The means to success in world politics. https://doi.org/10.2307/1148580

Nye, J. S. (2008). Public Diplomacy and Soft Power. The Annals of the American Academy of Political and Social Science, 616, 94–109. http://www.jstor.org/stable/25097996  

Quart, L., & Auster, A. (2001). American film and society since 1945 (5th ed.). Praeger.

Rodman, G. R. (2006). Mass media in a changing world: History, Industry, Controversy. McGraw-Hill Companies. 

Shakman, M. (Director). (2025, July 23). The Fantastic Four: First Steps [Major motion picture]. Walt Disney Studios Motion Pictures. https://movies.disney.com/the-fantastic-four-first-steps 

Sherry, M. (2013). Book Review: Bennett, One World, Big Screen: Hollywood, the Allies, and World War II, by Michael Sherry [Review of One World, Big Screen: Hollywood, the Allies, and World War II, by M. Todd Bennett]. Pacific Historical Review, 82(4), 630–631. https://doi.org/10.1525/phr.2013.82.4.630

Sunder, M. (2011). Bollywood/Hollywood. Theoretical Inquiries in Law, 12(1), 275–308. https://doi.org/10.2202/1565-3404.1269

Védrine, H., Moïsi, D., & Gordon, P. H. (2001). France in an Age of Globalization. Brookings Institution Press. http://www.jstor.org/stable/10.7864/j.ctvcj2n7t 



Accessibility