Shifwa Naila Samodra
HI UI 2024
Industri drama Boys’ Love (BL) menjadi salah satu industri yang dominan di Thailand. Bahkan, BL Thailand dapat disebut sebagai revolusi dari industri BL itu sendiri. Sebelumnya, negara-negara lain seperti Tiongkok, Korea, dan Jepang masih mengalami hambatan finansial dalam produksi drama BL dan arah yang cukup konservatif. Thailand mengukuhkan produksi drama BL menjadi suatu industri dengan sistem tertentu dan dukungan finansial yang memadai. Drama BL Thailand kemudian dikonsumsi dan dikenal secara luas, terutama di Asia Tenggara. Industri drama BL dapat dipahami sebagai cerminan dari soft power Thailand sebagai penggerak utama industri ini. Soft power ini tidak hanya memengaruhi ekonomi Thailand semata, tetapi juga membuka dan membentuk diskusi hangat terkait isu queer dan representasinya di media.
Drama BL Thailand menjadi suatu industri tersendiri dengan sistem tertentu. Perusahaan-perusahaan besar seperti GMMTV, Be On Cloud, dan Domundi memproduksi berbagai drama BL yang populer secara internasional seperti 2gether the Series (2020) dengan rating 7.6/10 (IMDb), SOTUS the Series (2016) dengan rating 7.8/10 (IMDb), dan Bad Buddy (2022) dengan rating 8.7/10 (IMDb). Drama BL ini dapat diakses melalui platform streaming gratis seperti YouTube. Audiens yang luas disebabkan oleh kemudahan akses terhadap konten drama BL ini sehingga dapat dinikmati oleh berbagai orang. Audiens BL Thailand internasional terbanyak berasal dari negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Filipina. Selain itu, BL Thailand juga dinikmati oleh audiens dari Brazil, Portugal, Amerika Serikat, Peru, dan Meksiko. Meskipun drama BL tersedia secara gratis, industri ini tetap dapat meraup keuntungan besar melalui merchandise, fanmeeting, konser, dan screening. BL Thailand berhasil membentuk komunitas penggemar internasional yang aktif, terutama secara daring melalui media sosial seperti Twitter, termasuk komunitas penggemar dari Indonesia.
Soft power merupakan kemampuan suatu aktor, terutama negara, untuk memengaruhi pihak lain bukan melalui paksaan, tetapi melalui daya tarik. Hal tersebut berbeda dengan hard power yang meliputi kekuatan militer dan ancaman. Soft power membentuk preferensi aktor lain melalui daya tarik (Nye dalam Art dan Jervis, 2017). Dalam konteks BL Thailand, BL dapat dilihat sebagai cultural soft power. BL Thailand merupakan produk budaya populer yang dikonsumsi lintas negara dan disebar melalui platform digital seperti YouTube, Netflix, dan media sosial lainnya. Daya tarik BL Thailand membentuk fanbase atau komunitas penggemar internasional. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya fanmeeting yang diadakan di berbagai negara. Meskipun pemerintah Thailand tidak selalu secara eksplisit mengklaim BL sebagai diplomasi budaya, mereka menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan industri tersebut. Industri drama BL ini membentuk framing Thailand sebagai ruang aman bagi kelompok queer di Asia. Thailand mampu memengaruhi persepsi audiens global tanpa menggunakan instrumen koersif, sekaligus memperkuat citranya di ranah internasional. Melalui BL Thailand, penggemar merasa tertarik pada Thailand secara lebih luas dan dapat tertarik untuk mempelajari bahasa Thai, berwisata ke Thailand, atau mengonsumsi produk Thailand.
Akan tetapi, muncul permasalahan terkait representasi queer dalam drama BL Thailand. Meskipun ada beberapa aktor BL yang mengidentifikasikan dirinya sebagai queer, sebagian besar aktor BL bukan merupakan dari kelompok queer. Perusahaan produksi drama BL membayar aktor non-queer untuk melakukan fanservice baik di dalam drama maupun di luar itu (seperti dalam fanmeeting, konser, atau acara sejenisnya). Hal tersebut mencerminkan identitas queer yang menjadi nilai jual dan bukan menjadi subjek emansipasi ataupun representasi. Tujuan utama dari industri BL ini adalah untuk mencari keuntungan, bukan untuk memberikan ruang emansipasi dan representasi bagi identitas queer. Selain itu, BL Thailand cenderung merepresentasikan hubungan queer yang heteronormatif dengan adanya pembagian peran maskulin/feminin yang kaku. Hal tersebut sejalan dengan pembingkaian hubungan queer yang tidak cukup representatif dan mengukuhkan nilai-nilai heteronormatif. Terlebih lagi, perempuan dalam drama BL sering digambarkan secara negatif sehingga mengukuhkan nilai-nilai misoginis (Garg dan Yang, 2024). Meskipun Thailand dapat menikmati keuntungan dari industri drama BL sebagai soft power, komodifikasi queer melalui industri ini perlu diatasi sehingga kelompok queer dapat direpresentasikan secara akurat dan emansipatif alih-alih menjadi aset dan nilai jual saja.
Meskipun industri drama BL sebagai soft power Thailand menuai beberapa kritik terkait komodifikasi dan representasi, tidak dapat dipungkiri bahwa drama BL Thailand juga mendorong audiensnya untuk mengenal dan menerima identitas queer walaupun dalam ranah yang terbatas. Indonesia, contohnya, sebagai salah satu negara dengan homonegativitas tertinggi di Asia Tenggara (Manalastas dkk., 2017), menjadi salah satu audiens terbesar dari drama BL Thailand. Hal tersebut menunjukkan adanya perubahan persepsi terhadap identitas queer, meskipun masih sangat terbatas dan tidak sepenuhnya inklusif. Akan tetapi, media dan budaya populer seperti drama BL Thailand dapat menjadi titik pertama dari penerimaan identitas queer. Meskipun begitu, pemikiran kritis dibutuhkan untuk menilai jika penerimaan tersebut hanya sebatas “fetish” dan bukan penerimaan komunitas queer sebagai manusia.
Industri drama BL Thailand menunjukkan bahwa budaya populer dapat berfungsi sebagai sumber soft power yang efektif dalam membentuk citra negara di tingkat internasional. Melalui daya tarik budaya, BL Thailand berhasil memperkuat citra Thailand sebagai negara yang terbuka dengan identitas queer sekaligus memperluas pengaruh kulturalnya di kawasan Asia Tenggara dan global. Namun, keberhasilan tersebut menyingkap persoalan representasi queer dalam BL yang lebih banyak didorong oleh logika pasar dibandingkan diberlakukan sebagai sarana emansipasi dan representasi yang inklusif. Komodifikasi identitas queer dalam industri BL memperlihatkan bahwa budaya yang ditampilkan tidak selalu sejalan dengan intensinya untuk memberikan wadah representasi yang akurat, melainkan digunakan untuk memaksimalkan keuntungan. Meskipun demikian, drama BL Thailand tetap memiliki signifikasi sebagai titik awal perubahan persepsi, terutama di negara-negara dengan tingkat homonegativitas tinggi seperti Indonesia.
Referensi
Art, Robert J. dan Robert Jervis. (2017). International Politics: Enduring Concepts and Contemporary Issues. Pearson.
Garg, Divya dan Xiaofei Yang. (2024, 30 Januari). “Beyond a Queer Utopia: Interrogating Misogyny in Transnational Boys Love Media” dalam Continuum: Journal of Media & Cultural Studies. Routledge. 770–782. https://doi.org/10.1080/10304312.2024.2314186.
Jiang, Long dan Yuxin Wei. (2024, 6 Juni). “Boys Love Media in Thailand: Celebrity, Fans, and Transnational Asian Queer Popular Culture” dalam Critical Arts. Routledge. 261–262. https://doi.org/10.1080/02560046.2024.2361352.
Lyajoon, Stephen. (2024, 6 Agustus). “BL Drama: The Thai Entertainment Industry as a Source of Soft Power” dalam English Language, Literature & Culture. Science Publishing Group. 72–76. https://doi.org/10.11648/j.ellc.20240903.13.
Manalastas, Eric Julian, dkk. (2017). “Homonegativity in Southeast Asia: Attitudes Toward Lesbians and Gay Men in Indonesia, Malaysia, the Philippines, Singapore, Thailand, and Vietnam” dalam Asia-Pacific Social Science Review. 25–33. https://doi.org/10.59588/2350-8329.1120.
Michaels, Ekathep, dkk. (2024, 29 Juli). “Mainstreaming Queerness in Thai Boys’ Love Narratives: Impact on Gay Identity Perceptions in Bangkok’s Society” dalam Sexualities. Sage. https://doi.org/10.1177/13634607241263194.
Setiawan, R., dkk. (2025, 13 Oktober). “Thai Boys’ Love: Queer Representation and Cultural Diplomacy in Thailand’s Soft Power Strategy in Southeast Asia” dalam Bhuvana: Journal of Global Studies. Vol. 3 No. 2. Universitas Satya Negara Indonesia. 166–193. https://doi.org/10.59408/bjgs.v3i2.238.
