Strategi Indonesia terhadap Uni Eropa: Anti-Kolonialisme, Non-Blok dan Kemitraan yang Setara

image

14b.Strategi Indonesia terhadap Uni Eropa

  • Penulis: Evi Fitriani
  • Tahun Terbit: 2015
  • Editor: Hungdah Su
  • Judul Buku: Asian Countries’ Strategies towards the European Union in an Inter-Regionalist Context
  • Tempat Publikasi: Taipei
  • Penerbit: National Taiwan University Press
  • Bahasa  : Inggris
  • Deskripsi Singkat:

“…bab ini fokus pada tiga faktor utama dalam pembentukan diplomasi Indonesia terhadap Uni Eropa: tradisi anti-kolonial; kesetiaan pada posisi non-blok; dan intervensi pribadi presiden. Terkait dengan posisi anti-kolonial, Indonesia tidak pernah menerima kritik dari Uni Eropa terhadap hak asasi manusia ataupun promosi nilai-nilai Eropa. Dimotivasi oleh semangat non-blok, Indonesia menolak untuk beraliansi dengan Barat untuk menahan penyebaran komunisme pada Perang Dingin, dan menolak untuk mengambil pihak pada koalisi Uni Eropa-Amerika Serikat, serta usaha Amerika Serikat untuk menahan kebangkitan Cina. Berdasarkan keadaan-keadaan ini, presiden dapat membentuk strategi Indonesia terhadap Uni Eropa. Sebagai contoh,  Habibie dan Yudhoyono cenderung lebih berkompromi di bawah tekanan Uni Eropa, sedangkan Sukarno berani untuk berkonflik dengan Belanda di Papua Barat. Suharto memilih untuk mendekatkan Indonesia pada Uni Eropa, sekaligus mengeksploitasi ASEAN sebagai wadah multilateral untuk memperkuat posisi Indonesia vis-à-vis Uni Eropa. Indonesia kini diakui sebagai suatu demokrasi penuh, negara Islam moderat, dan mewakili ASEAn di G20, Indonesia terlihat lebih percaya diri dalam diplomasinya dengan Uni Eropa meskipun masih terdapat ketidaksepakatan dalam isu hak asasi manusia dan perlindungan lingkungan. Ke depannya, Indonesia akan terus berpegangan pada tradisi anti-kolonial dan semangat non-blok, dan mengembangkan kontak perorangan dalam hubungan diplomasi dengan Uni Eropa…”